Bandung kerap dikenal sebagai kota kreatif, termasuk dalam ranah musik. Namun, suasana berbeda kini terasa di Taman Musik Centrum, ruang publik yang sebelumnya lekat dengan aktivitas pertunjukan dan ekspresi para musisi. Tempat yang dulu ramai oleh denting gitar dan penonton konser kecil, belakangan tampak kehilangan denyut utamanya.
Aktivitas di taman ini perlahan bergeser. Alih-alih menjadi ruang pertunjukan, Taman Musik Centrum kini lebih sering berfungsi sebagai tempat singgah. Area tersebut diisi pelajar, pedagang, serta kegiatan santai yang tidak lagi menghadirkan atmosfer musik seperti sebelumnya.
Perubahan itu kontras dengan posisi musik dalam kehidupan sehari-hari. Musik kerap dipandang sebagai bagian integral yang memberi warna dan menghidupkan suasana. Di Bandung, musik juga kerap menjadi energi yang mendorong seniman, artis, hingga generasi muda untuk terus berekspresi.
Bandung sendiri memiliki jejak panjang dalam peta musik Indonesia. Dari kota ini lahir sejumlah nama yang dikenal luas, salah satunya Noah—dulu Peterpan—dengan Ariel Noah, Lukman Hakim, dan David Kurnia Albert, yang memulai perjalanan mereka dari bangku sekolah di Bandung. Ada pula Gigi, grup yang digawangi Armand Maulana dan kawan-kawan, yang dikenal lewat karya-karya populer sejak era 1990-an hingga kini.
Selain itu, Bandung juga disebut sebagai tanah kelahiran musisi seperti Ruth Sahanaya, Betharia Sonata, Sherina Munaf, hingga Isyana Sarasvati. Warisan musik tradisional turut melekat, dengan angklung sebagai simbol harmonisasi yang mendunia dan kecapi yang menyimpan sejarah panjang dalam budaya Sunda.
Di sisi lain, geliat musik underground Bandung juga dikenal kuat. Kawasan Ujung Berung kerap disebut sebagai “kawah candradimuka” bagi komunitas metal, dengan nama-nama seperti Burgerkill, Jasad, hingga Forgotten. Komunitas ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Di tengah reputasi tersebut, sepinya Taman Musik Centrum menimbulkan ironi tersendiri. Ruang yang semula menjadi wadah pertunjukan dan pertemuan komunitas musik kini menghadapi perubahan fungsi, meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana ruang publik bagi musik di Bandung akan kembali menemukan ritmenya.

