BERITA TERKINI
Sulit Move On karena Lagu: Mengapa Musik Mengikat Kenangan dan Cara Menghadapinya

Sulit Move On karena Lagu: Mengapa Musik Mengikat Kenangan dan Cara Menghadapinya

Banyak orang mengaku hubungan sudah berakhir, tetapi kebiasaan mendengarkan lagu-lagu galau yang sama masih terus berulang. Di pagi hari ada lagu yang memicu ingatan, malam sebelum tidur kembali memutar judul yang itu-itu saja. Tak jarang, lagu sengaja dinyalakan untuk memberi ruang pada emosi—termasuk menangis sebentar. Situasi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa sebagian orang begitu sulit melepaskan lirik yang dulu terasa seperti soundtrack kisah cinta?

Salah satu penjelasannya, lagu dapat menjadi “jebakan emosional”. Bukan hanya karena melodi yang menyentuh, melainkan karena lagu tersebut pernah hadir di momen tertentu bersama seseorang. Akibatnya, setiap lirik berubah menjadi pengingat, seolah menjadi pintu yang membawa kembali ke masa lalu.

Dalam kondisi tertentu, lagu juga menjadi tempat bercerita tanpa perlu menyampaikan apa pun kepada orang lain. Musik berfungsi sebagai pelampiasan: cukup menekan tombol putar, lalu kembali tenggelam dalam kenangan tanpa harus mencari validasi dari siapa pun.

Ada pula sisi lain yang lebih rumit: sebagian orang menemukan kenyamanan dalam rasa sakit yang sudah dikenal. Meski terdengar bertentangan, kesedihan yang familiar kadang terasa lebih mudah dijalani daripada menghadapi langkah baru. Pada titik ini, kesulitan move on bukan semata soal lagu, melainkan tentang ketakutan untuk benar-benar bergerak ke depan.

Agar musik tidak menjadi alasan untuk terus terjebak pada masa lalu, ada beberapa langkah yang bisa dicoba. Pertama, tidak harus langsung menghapus semua lagu galau, tetapi mulai menguranginya secara perlahan dan menyelingi dengan lagu-lagu yang membuat perasaan lebih baik dan lebih kuat.

Kedua, membuat daftar putar baru yang mewakili diri saat ini—lagu-lagu tentang belajar ikhlas, berani melanjutkan hidup, dan membangun versi “kamu yang baru”. Playlist ini dapat lebih sering diputar untuk membantu membentuk suasana hati yang berbeda.

Ketiga, menyadari bahwa persoalannya bukan pada lagu, melainkan cara mendengarkannya. Jika lagu diputar hanya untuk memicu kilas balik, proses move on berisiko berhenti di tempat. Sebaliknya, ketika lagu yang sama bisa didengar tanpa rasa sakit yang dulu muncul, itu bisa menjadi tanda adanya perkembangan.

Pada akhirnya, move on adalah proses. Namun, jika seseorang terus-menerus memutar lagu yang membuat hati perih, proses itu bisa terasa lebih lama. Tidak salah bila kenangan masih muncul, tetapi penting untuk mengingat bahwa setiap orang juga berhak bahagia. Musik dapat menjadi teman, tetapi kendali tetap ada pada pendengarnya—mengganti nada, mengubah rasa, dan melanjutkan langkah.