Keterikatan emosional terhadap musik pada masa remaja menjadi perhatian dalam kajian psikologi dan neurosains. Sejumlah penelitian yang dirilis American Psychological Association menyebut rentang usia 13 hingga 17 tahun sebagai fase krusial dalam pembentukan identitas diri.
Dalam fase tersebut, jenis musik yang disukai remaja kerap dianggap bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari proses mengenali dan menegaskan jati diri. Berikut dua alasan yang dijelaskan dalam kajian tersebut, sebagaimana dikutip pada Kamis (29/4).
1. Masa remaja merupakan fase pembentukan identitas yang sangat intens
Pada usia 13 hingga 17 tahun, individu mulai mencari jati diri serta nilai-nilai yang diyakini. Musik menjadi salah satu sarana untuk mengekspresikan perasaan dan pandangan hidup. Lagu-lagu yang didengarkan pada fase ini sering kali mencerminkan kepribadian yang sedang berkembang. Karena itu, preferensi musik pada masa ini cenderung melekat sebagai bagian dari identitas diri.
2. Intensitas emosi pada masa remaja membuat pengalaman musik lebih membekas
Remaja mengalami perubahan emosi yang signifikan dibandingkan fase usia lainnya. Musik yang didengar saat kondisi emosional tinggi dinilai lebih mudah tertanam dalam ingatan. Situasi ini membuat lagu-lagu tertentu memiliki nilai sentimental yang kuat, sehingga tetap relevan secara emosional hingga seseorang memasuki usia dewasa.