BERITA TERKINI
Studi AIA: Warga Singapura Merasa Terbantu Teknologi untuk Wellness, tetapi Kewalahan oleh Banjir Data dan Banyak Platform

Studi AIA: Warga Singapura Merasa Terbantu Teknologi untuk Wellness, tetapi Kewalahan oleh Banjir Data dan Banyak Platform

Studi terbaru AIA Singapore, AIA Live Better Study, menyoroti hubungan yang paradoks antara warga Singapura dan teknologi dalam mengelola wellness. Di satu sisi, mayoritas responden menilai teknologi meningkatkan kualitas hidup (71%) serta membantu mereka tetap terinformasi dan mengambil keputusan gaya hidup yang lebih baik (74%). Namun di sisi lain, banyak yang merasa kewalahan oleh volume informasi online (61%), dan kurang dari tiga dari lima responden (58%) merasa benar-benar memegang kendali atas kesehatan mereka melalui sarana digital.

Studi yang dilakukan pada Desember 2025 hingga Januari 2026 ini menggunakan Holistic Wellness Index yang dirancang AIA Singapore untuk memetakan kondisi wellness secara menyeluruh dalam lima aspek: fisik, finansial, mental, sosial, dan spiritual. Temuan studi menunjukkan kebutuhan akan solusi digital yang lebih terintegrasi, intuitif, dan berpusat pada manusia agar teknologi menjadi pendukung, bukan sumber stres tambahan.

Chief Marketing and Healthcare Officer AIA Singapore, Irma Hadikusuma, mengatakan studi tersebut memperlihatkan bahwa adopsi teknologi untuk wellness terus meningkat, tetapi sebagian warga justru merasa kewalahan alih-alih semakin berdaya. Menurutnya, perangkat digital perlu berfungsi sebagai enabler dan tidak menambah tekanan. Ia juga menekankan pentingnya inovasi yang berpusat pada manusia, karena teknologi tidak dapat menggantikan empati dan panduan tepercaya dari koneksi antarmanusia.

Kesehatan mental: adopsi AI tumbuh, tetapi kepercayaan belum merata

Dalam aspek kesehatan mental, penggunaan kecerdasan buatan (AI) disebut kian berkembang, namun tingkat kepercayaan pengguna masih menjadi tantangan. Hanya 60% responden menilai pengaruh AI terhadap wellness mental sebagai positif, lebih rendah dibanding penilaian positif pada wellness finansial dan fisik (masing-masing 65%).

Sejumlah alat digital yang dinilai membantu kesehatan mental antara lain chatbot AI dan pendamping digital (76%), aplikasi pelacakan kesehatan mental (75%), aplikasi meditasi atau mindfulness (74%), serta platform terapi atau konseling online (74%). Meski demikian, pemanfaatan AI memunculkan perasaan campur aduk. Kelompok individu berpendapatan/berkekayaan tinggi (HNWIs) tercatat paling percaya diri terhadap kemampuan AI untuk mendukung mereka (73% dibanding 46%).

Studi juga mencatat faktor yang menghambat penggunaan alat kesehatan mental digital, termasuk kekhawatiran privasi dan keamanan data (41%), risiko misinformasi atau saran yang tidak akurat (39%), serta kurangnya empati atau pemahaman manusiawi (38%). Sekitar separuh responden (51%) mengaku terkadang merasa stres atau cemas saat menggunakan alat kesehatan mental digital, yang dinilai dapat berlawanan dengan tujuan awal penggunaan perangkat tersebut.

Untuk setahun ke depan, studi memperkirakan adanya peningkatan preferensi terhadap terapi atau konseling tatap muka, dengan 43% responden melaporkan preferensi yang lebih kuat terhadap layanan langsung. Selain itu, 51% responden menyatakan minat pada produk asuransi yang menyediakan akses ke alat kesehatan mental digital, dengan permintaan lebih tinggi pada kelompok HNW (70%).

Keuangan: banyaknya aplikasi membuat sebagian orang kewalahan

Di ranah wellness finansial, beragam solusi teknologi finansial disebut turut menimbulkan beban. Lebih dari separuh responden (56%) merasa kewalahan oleh banyaknya alat keuangan yang tersedia, dan 54% kesulitan melacak banyak platform serta akun.

Kondisi ini mendorong kebutuhan akan alat yang terintegrasi untuk mengelola keuangan, dengan 57% responden menginginkannya. Kebutuhan ini lebih kuat pada Gen Z (64%). Meski mengadopsi teknologi, sebagian responden masih membutuhkan kepastian dari ahli: tiga dari 10 responden (31%) menyatakan dukungan penasihat atau agen manusia dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengelola keuangan secara digital.

Berbeda dengan gambaran umum tersebut, kelompok HNWIs dinilai lebih mampu memanfaatkan teknologi untuk wellness finansial. Hampir tiga dari empat responden HNW (74%) melaporkan perbaikan wellness finansial (dibanding rata-rata 53%). Mereka juga menilai alat digital membantu mengambil keputusan yang lebih terinformasi (79%), menjaga rencana tujuan keuangan (82%), serta membuat mereka merasa lebih memegang kendali atas uang (81%).

Fisik: terjebak angka dan notifikasi

Untuk wellness fisik, perangkat seperti Strava, Apple Watch, dan Fitbit umum digunakan untuk melacak kemajuan kebugaran. Sekitar 69% responden merasa lebih memegang kendali atas kesehatan fisik melalui alat tersebut. Namun, studi mencatat dorongan berbasis data ini juga memicu stres.

Sekitar 53% responden mengaku lebih fokus pada angka ketimbang merasakan kondisi tubuh mereka. Selain itu, 47% menyebut overstimulasi akibat data dan notifikasi yang terus-menerus, 45% merasa tertekan untuk terus meningkatkan metrik kesehatan, 44% merasa stres atau cemas ketika tidak mencapai target pelacakan, dan 44% menyatakan pelacakan justru membuat mereka khawatir tentang kesehatan alih-alih merasa lebih sehat.

Temuan ini mengarah pada kebutuhan program atau inisiatif kesehatan fisik yang lebih personal. Sebanyak 64% warga Singapura menyatakan perlunya program yang lebih dipersonalisasi, dan angka ini lebih tinggi pada HNWIs (82%).

Sosial: merasa terhubung, tetapi tetap kesepian

Studi mencatat dampak positif teknologi paling kuat terlihat pada wellness sosial. Sebanyak 70% responden melaporkan merasa lebih terhubung secara sosial dengan bantuan alat digital. Namun, kedalaman koneksi tersebut dipertanyakan karena hampir separuh responden (46%) tetap merasa terisolasi secara sosial meski terhubung secara digital. Perasaan ini lebih menonjol pada Gen Z, dengan 55% menyatakan mengalami isolasi sosial.

Secara keseluruhan, studi menyimpulkan bahwa warga Singapura memerlukan solusi digital yang lebih terintegrasi, intuitif, dan berpusat pada manusia untuk membantu perjalanan menuju wellness holistik tanpa menambah beban informasi dan kompleksitas platform. AIA juga menyinggung AIA+, aplikasi seluler yang mengintegrasikan layanan kesehatan, wellbeing, dan layanan finansial untuk kebutuhan pengelolaan kesehatan serta kekayaan.