BERITA TERKINI
Stigma dan Kurang Pengetahuan Hambat Penanganan TBC, Dokter Ingatkan Risiko Jika Pengobatan Tak Tuntas

Stigma dan Kurang Pengetahuan Hambat Penanganan TBC, Dokter Ingatkan Risiko Jika Pengobatan Tak Tuntas

Stigma dan minimnya pengetahuan masih menjadi penghambat utama dalam penanganan tuberkulosis (TBC). Kondisi ini membuat sebagian pasien enggan memeriksakan diri atau menghentikan pengobatan sebelum tuntas karena merasa sudah sembuh.

Padahal, TBC dapat disembuhkan total bila terdeteksi sejak dini dan ditangani secara konsisten hingga selesai. “Masih banyak pasien yang malu memeriksakan diri dan menghentikan pengobatan di tengah jalan karena merasa sudah sehat,” kata dr Nurjannah Lihawa, SpP(K), saat diwawancarai melalui telepon, Jumat (18/7/2025) sore.

Menurut dr Nurjannah, pengobatan TBC bukan hanya untuk memulihkan kondisi pasien, tetapi juga mencegah penularan kepada orang lain. Namun, hingga kini masih ada pasien yang meremehkan pentingnya disiplin berobat dan memilih berhenti di tengah jalan.

“Kalau pengobatannya tidak tuntas, dampaknya bukan cuma ke dirinya sendiri, tapi juga ke orang-orang terdekatnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ada dua konsekuensi besar ketika penderita TBC tidak menjalani pengobatan dengan benar. Pertama, kerusakan paru-paru dapat menjadi permanen meski kuman TBC sudah dinyatakan mati. “Kerusakan paru akan sangat luas, sehingga penyembuhannya tidak sempurna. Artinya, pasien akan tetap minum obat dan kumannya mati. Tapi kerusakan paru yang ada di tubuhnya akan menjadi gejala sisa untuk seumur hidupnya,” jelasnya.

Kedua, risiko yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya TBC kebal obat atau multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) akibat ketidakdisiplinan minum obat. “Kuman bisa kebal. Kalau sudah masuk tahap ini, pengobatannya jadi jauh lebih sulit, lama, dan mahal,” ungkap dr Nurjannah, yang akrab disapa dr Nuke.

Selain berdampak pada pasien, pengobatan yang tidak tuntas juga membuat penderita berpotensi menularkan TBC ke lingkungan sekitar. “Inilah kenapa TBC seperti tidak ada habisnya dan sering dikira penyakit keturunan. Satu orang bisa jadi sumber penularan kalau dia tidak berobat dengan benar,” tegasnya.

dr Nurjannah juga mengingatkan bahwa gejala TBC kerap tidak disadari pada tahap awal. Sebagian pasien mengira keluhan yang muncul hanyalah flu biasa atau kelelahan, sehingga pemeriksaan dan penanganan sering terlambat dilakukan.