BERITA TERKINI
Sriyanti S Sastroprayitno, Dosen Kimia Undip yang Menekuni Sastra Jawa demi Pelestarian Bahasa

Sriyanti S Sastroprayitno, Dosen Kimia Undip yang Menekuni Sastra Jawa demi Pelestarian Bahasa

Hasil survei UNESCO menunjukkan satu bahasa lokal punah setiap dua pekan. Fakta ini memunculkan kekhawatiran akan keberlangsungan bahasa daerah, sehingga penggunaan dan pelestarian bahasa menjadi hal yang penting.

Di tengah situasi tersebut, upaya mempertahankan eksistensi bahasa lokal terus dilakukan oleh sejumlah pihak. Salah satunya adalah Sriyanti S Sastroprayitno atau Dra Sriyanti MSi, dosen Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) yang juga menulis sastra Jawa.

Antologi geguritan karya Sriyanti berjudul Mecaki Wektu tercatat meraih penghargaan Prasidatama 2021 dan Anugerah Sastra Rancage 2022. Ia pun menceritakan alasan tetap berkeinginan merawat dan melestarikan Bahasa Jawa.

Meski kesehariannya bergelut di dunia akademik, Sriyanti mengatakan minat menulis sudah tumbuh sejak lama. Ia mengaku tertarik menulis baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, berangkat dari hobi yang muncul secara alami dan dipengaruhi kegemarannya membaca sejak kecil.

“Saya sebetulnya sangat tertarik menulis, baik itu dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Keduanya lahir karena hobi yang muncul begitu saja, mungkin efek dari kegemaran saya membaca sejak kecil,” kata Sriyanti.

Khusus untuk bahasa Jawa, Sriyanti menyebut pengaruh besar datang dari bacaan yang pertama kali ia kenal di rumah. Almarhum ayahnya, Soeparmin Sastroprayitno, seorang pegawai pengairan (PNS) di Sragen, berlangganan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat sejak Sriyanti kelas 1 SD pada 1975. Langganan itu berlanjut hingga sang ayah wafat pada 2019.

Sriyanti yang tumbuh sebagai anak desa dengan keterbatasan akses bacaan mengaku membaca tuntas semua tulisan yang tersedia di rumah. Selain Panjebar Semangat, ayahnya juga kerap membawa pulang tabloid Minggu Ini (Suara Merdeka), serta sesekali majalah Jayabaya.

Dari kebiasaan membaca itulah, ketertarikan Sriyanti pada dunia tulis-menulis dan sastra Jawa berkembang, seiring dengan keinginannya untuk ikut menjaga keberlanjutan bahasa daerah.