Jepara—Berawal dari skripsi yang berkali-kali ditolak, Hesti Prasetya (40), guru seni musik di SMPN 6 Jepara, justru mengembangkan usaha pembuatan alat musik bambu dan beragam kerajinan kreatif. Produk karyanya kini dikenal hingga luar daerah dan pernah dikirim ke luar negeri dalam bentuk cinderamata.
Di rumahnya di Desa Bandengan RT 10 RW 3, Kecamatan Jepara, tumpukan alat musik berbahan bambu terlihat menghiasi teras. Selain mengajar, Prasetya menekuni produksi alat musik sekaligus kerajinan bambu yang memiliki nilai seni dan ekonomi.
Prasetya menuturkan, awal mula ketertarikannya pada alat musik bambu berangkat dari penelitian skripsi saat menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia mengaku sempat beberapa kali mengalami penolakan judul skripsi hingga mendapat informasi dari seorang teman tentang alat musik Krumpyung di Kulonprogo yang disebut hampir punah.
“Dulu awalnya saya itu mengajukan judul skripsi ditolak terus. Kemudian dapat info dari temen kalau di Kulonprogo ada alat musik Krumpyung yang hampir punah. Akhirnya saya kesana, wawancara sama Mbah Sumitro, kemudian saya ajukan, dan proposal saya di ACC,” kata Prasetya saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.
Penelitian itu dilakukan sekitar 2009. Ketertarikannya semakin berkembang hingga pada 2014 ia mulai memproduksi alat musik bambu sendiri. Pada tahap awal, produksi tersebut ditujukan untuk kebutuhan komunitas seni miliknya, Carang Pakang. Setahun kemudian, pesanan mulai datang dan usahanya terus berkembang.
“2014 itu mulai produksi tapi hanya untuk Carang Pakang. 2015 mulai ada order, kemudian 2016 makin banyak dan orderan-orderan lain yang bahannya dari bambu,” ujarnya.
Selain angklung, Prasetya mengembangkan enam jenis alat musik lain yang ia beri nama Almubam atau alat musik bambu. Jenisnya meliputi saron bambu, chord bambu, bass bambu, gambang bambu, celo bambu, dan calung gantung.
Ia juga menerima pesanan berbagai kerajinan bambu, seperti lonceng bambu, kentongan, egrang, kap lampu, gelas bambu, payung, dipan bambu, bakiak, hingga perlengkapan dekoratif lainnya. “Pokoknya semua yang berbahan dari bambu selain (alat musik) yang ditiup dan (kerajinan) yang dianyam,” katanya.
Menurut Prasetya, produknya banyak dipesan oleh sesama guru seni dari sejumlah daerah, antara lain Pati, Demak, Yogyakarta, hingga Kepulauan Bangka Belitung. Sejumlah sanggar seni juga menjadi pelanggan tetap. Karyanya pun pernah dikirim ke luar negeri. “Ke luar negeri juga pernah, waktu itu ke Eropa tapi hanya berbentuk cinderamata,” ujarnya.
Dari pengalaman skripsi yang sempat berulang kali ditolak, Prasetya menekuni pengembangan alat musik dan kerajinan bambu yang kini membuka peluang usaha dari bahan sederhana.