Lantunan “De Spiritu Sancto” mengalun tanpa iringan musik, dinyanyikan dalam melodi monofonik yang bening. Bait demi baitnya terdengar melismatik—nada-nada bergerak naik-turun mengikuti makna, dengan lompatan yang disebut ekspresif dan rentang hingga dua oktaf. Kesan yang muncul membawa pendengar seolah memasuki suasana religius abad pertengahan.
Namun suasana itu bukan terjadi di sebuah biara Benediktin di Rupertsberg, Bingen, Jerman, melainkan di Jakarta. Pada Minggu, 7 Juni 2026, Cantica Sacra Choir menjalani latihan terakhir di gedung lama KWI, Jakarta, menjelang Konser Pentakosta yang dijadwalkan berlangsung di Gereja Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q, Jakarta Selatan, pada 16 Juni 2026.
Konduktor sekaligus pelatih paduan suara, Jay Wijayanto, menyebut karya tersebut tidak mudah dibawakan. Ia menanggapi latihan itu di tengah upaya menghadirkan kembali sebuah komposisi liturgi yang berasal dari abad pertengahan, namun tetap relevan bagi pendengar masa kini.
“De Spiritu Sancto” digubah oleh Hildegard von Bingen, yang disebut sebagai Abdis (kepala) biara suster Benediktin Rupertsberg. Dalam teks lagu itu, Roh Kudus digambarkan sebagai sumber kehidupan yang menggerakkan segala sesuatu dan membasuh kenajisan, serta sebagai kekuatan yang “menghapus dosa-dosa dan mengurapi luka-luka” hingga “membangkitkan dan menghidupkan kembali segala sesuatu.”
Secara musikal, komposisi ini digambarkan memiliki struktur yang tidak sepenuhnya mengikuti pakem musik Gregorian gerejawi. Meski demikian, hasilnya justru menghadirkan nuansa yang dinilai mistis, terutama ketika dinyanyikan murni tanpa iringan instrumen.
Hildegard von Bingen (1098–1179) dikenal sebagai figur serbabisa pada masanya. Ia disebut sebagai mistikus, teolog, pujangga, komposer, herbalis, sekaligus pejuang otonomi perempuan (biarawati) pada abad pertengahan.
Ia lahir pada 1098 di Bermersheim, Jerman, dari keluarga bangsawan. Sejak berusia delapan tahun, Hildegard dititipkan di biara Benediktin Disibodenberg untuk menjadi suster. Pada 1136, ia kemudian menjadi Abdis atau kepala biara bagi komunitas suster Benediktin di sana.
Latihan Cantica Sacra Choir di Jakarta memperlihatkan bagaimana karya liturgi dari berabad-abad lalu masih terus dihidupkan dan dipelajari, termasuk melalui konser bertema Pentakosta yang akan digelar pertengahan Juni 2026.