Netflix menyiapkan perluasan dunia Stranger Things lewat serial animasi berjudul Stranger Things: Kronik 1985, yang dijadwalkan tayang pada April 2026. Proyek ini diprakarsai Eric Robles dan disebut tetap mengambil pijakan dari semesta yang diciptakan Matt dan Ross Duffer, namun dengan format serta suasana yang berbeda dari versi live-action.
Serial animasi ini diproduksi oleh Flying Bark. Sejumlah pengisi suara yang terlibat antara lain Brooklyn Norstedt, Jolie Hoang-Rappaport, dan Luca Diaz. Latar ceritanya berada di Hawkins, Indiana, pada musim dingin 1985, ketika kota kecil itu mengalami suhu dingin yang jarang terjadi.
Dalam kisahnya, cuaca ekstrem menjadi latar munculnya keanehan yang mengganggu rutinitas warga. Makhluk-makhluk asing digambarkan muncul dari kegelapan dan memicu ketakutan yang selama ini terpendam. Para tokoh muda di Hawkins harus menghadapi kekuatan di luar nalar mereka, sementara lingkungan yang tidak bersahabat memperberat situasi.
Seiring berjalannya episode, serial ini membangun sebuah misteri paranormal utama yang meluas melampaui jalanan bersalju Hawkins. Cerita disebut mengikuti garis waktu yang sudah akrab bagi penonton serial asli, sekaligus menjelajahi jalur cerita baru dan tantangan khas medium animasi, tanpa mengungkap elemen-elemen kunci dari plot utama.
Robles bertindak sebagai showrunner sekaligus produser eksekutif. Matt dan Ross Duffer terlibat langsung melalui Upside Down Pictures, bersama Shawn Levy (21 Laps), Hilary Leavitt, dan Dan Cohen. Pemilihan Flying Bark—yang dikenal lewat karya animasi berenergi dan inovatif—diposisikan untuk menghadirkan identitas visual yang kuat dan berbeda dari versi live-action, sembari menjaga esensi inti saga tersebut.
Secara kreatif, Stranger Things: Kronik 1985 menjadi bagian dari ekspansi dunia Stranger Things yang dikembangkan Netflix, meliputi serial utama, proyek turunan, dan pengalaman imersif. Kehadirannya juga mencerminkan tren penggunaan animasi untuk mengeksplorasi waralaba populer, yang memberi ruang lebih luas untuk bentuk visual dan pengembangan cerita.
Serial ini ditujukan bagi penonton remaja dan dewasa yang telah akrab dengan Stranger Things. Gaya animasi diharapkan dapat memperkuat nuansa horor dan fantasi, sambil mempertahankan tema-tema utama waralaba tersebut—persahabatan, ketakutan pada hal yang tak diketahui, serta perjumpaan dengan kekuatan dari dunia lain—dalam atmosfer yang mengingatkan pada film-film genre era 1980-an.
Melalui versi animasi ini, Stranger Things melanjutkan pengembangan transmedia dengan menawarkan cara baru memasuki dunia Hawkins. Serial ini tidak dimaksudkan menggantikan cerita utama, melainkan memperkaya mitologi yang sudah ada melalui format pendukung yang menekankan suasana dan pencarian cerita-cerita baru.

