Fakultas Manajemen Kebudayaan dan Seni, Universitas Kebudayaan Hanoi, menggelar seminar bertajuk “Mempromosikan Nilai-Nilai Sejarah dan Budaya dalam Seni Pertunjukan Kontemporer” pada 26 Maret di Hanoi. Seminar ini menghadirkan dua pembicara, yakni musisi Nguyen Cuong dan penulis drama Hong Hoa.
Dalam pemaparannya, Hong Hoa menilai seni pertunjukan sebagai cara efektif untuk menghadirkan kembali sejarah secara hidup dan emosional. Ia menyebut, melalui bahasa pertunjukan, cerita dan tokoh yang selama ini hanya dikenal lewat buku dapat menjadi lebih mudah dipahami dan terasa otentik. Nilai budaya tradisional yang diekspresikan lewat musik, bahasa, serta kostum juga dinilai memiliki peluang menyebar lebih alami, sehingga seni dapat menjadi jembatan yang mendekatkan warisan dengan kehidupan kontemporer.
Hong Hoa menambahkan, seni pertunjukan tidak hanya berfungsi melestarikan warisan, tetapi juga memperbaruinya dengan memadukan unsur tradisional dan kreativitas modern. Menurutnya, pendekatan ini membantu mencegah nilai budaya memudar, memperpanjang vitalitasnya, serta membangkitkan emosi, menumbuhkan kebanggaan, dan menanamkan kesadaran menjaga identitas budaya, terutama pada generasi muda.
Ia mencontohkan kolaborasinya dengan Nguyen Cuong dalam drama musikal “Harimau Suci Yen The” yang mengeksplorasi sosok Hoang Hoa Tham, pemimpin tertinggi Pemberontakan Yen The. Karya tersebut ditulis dan disutradarai oleh Hong Hoa, dengan musik digubah Nguyen Cuong. Pementasan berlangsung pada pertengahan Maret 2026 di komune Yen The, provinsi Bac Ninh, untuk memperingati 142 tahun Pemberontakan Yen The (16 Maret 1884–16 Maret 2026).
Sebelum proyek itu, keduanya juga bekerja sama dalam sejumlah karya bertema budaya dan sejarah, antara lain opera “Aspirasi Dam San”, drama paduan suara “Kembali Menangis untuk To Nhu”, dan drama paduan suara “Kemenangan Besar Xuong Giang”. Hong Hoa menyebut upayanya bersama rekan-rekan seniman berangkat dari misi mendekatkan nilai sejarah dan budaya kepada publik melalui bahasa pertunjukan kontemporer.
Menjelaskan alasan kerap memilih genre yang menantang seperti opera atau drama paduan suara, Hong Hoa mengatakan pesan sejarah yang penting memerlukan pendekatan yang sepadan. Menurutnya, bentuk-bentuk tersebut memungkinkan penggabungan musik, tari, serta elemen plot tematik untuk menyampaikan gagasan. Ia juga menekankan, yang terpenting bagi penonton bukan istilah teknis bentuk seni, melainkan kemampuan karya menyentuh emosi. Karena itu, ia berusaha menggali nilai humanistik di balik peristiwa sejarah dan mencari bahasa pementasan yang mudah dipahami serta kaya emosi tanpa meninggalkan kedalaman akademis.
Sementara itu, Nguyen Cuong berbagi pengalaman mengolah materi tradisional seperti lagu rakyat dan musik etnik menjadi karya seni. Ia menilai proses itu menuntut pengalaman, kehalusan, dan tanggung jawab, dengan syarat utama berupa pemahaman mendalam terhadap materi tradisional. Ia menekankan pentingnya mengidentifikasi unsur “inti” yang harus dipertahankan, seperti tangga nada, ritme, hiasan vokal, maupun semangat dan emosi khas. Menurutnya, inovasi sebaiknya diarahkan pada bentuk ekspresi, aransemen, dan pementasan, bukan mengubah nilai fundamental.
Nguyen Cuong juga menyampaikan pandangannya bahwa seni memiliki kemampuan mengukir cerita dan pesan ke dalam hati penonton tanpa harus menyampaikan angka atau rincian peristiwa sejarah. Ia meyakini citra seorang pahlawan yang hadir lewat karya seni dapat melekat lebih lama dibanding pelajaran teoretis yang mudah dilupakan.
Namun, ia menegaskan pengangkatan warisan budaya lokal memerlukan kecintaan mendalam dan kreativitas tanpa henti, bukan sekadar imitasi atau adaptasi. Ia mengaku membutuhkan waktu 40 tahun untuk mewujudkan keinginan mengangkat kisah epik Dam San hingga lahir drama musikal “Aspirasi Dam San”. Dalam kurun itu, ia menyebut menghabiskan setidaknya tiga bulan setiap tahun di Dataran Tinggi Tengah, bahkan terkadang tujuh bulan, untuk mendalami budaya setempat.
Untuk “Harimau Suci Yen The”, Nguyen Cuong mengatakan ia dan Hong Hoa mengembangkan proyek tersebut selama enam tahun agar mencapai kematangan emosional dan kedalaman intelektual yang dibutuhkan dalam mengolah materi sejarah dan budaya menjadi karya seni. Ia menyebut proses itu bukan semata penciptaan, melainkan perjalanan dialog dengan warisan dan sejarah untuk menemukan narasi yang relevan bagi masa kini.
Di sisi lain, keduanya juga berencana meluncurkan proyek seni berjudul “Lac Long Quan - Au Co” dalam waktu dekat. Proyek ini disebut telah dikerjakan selama enam tahun, dengan waktu penelitian yang signifikan di provinsi Phu Tho, terutama untuk menggali materi musik rakyat Xoan. Dalam rencana penggarapannya, tim akan menggabungkan bahasa lukisan untuk menciptakan instalasi seni berskala besar, serta menggunakan seni panggung kontemporer untuk menyampaikan bentuk dan estetika musik yang berakar kuat pada budaya Vietnam.
Pada seminar tersebut, Hong Hoa dan Nguyen Cuong turut menyumbangkan 100 eksemplar naskah sastra untuk opera “Harimau Suci Yen The” kepada Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Kebudayaan Hanoi. Donasi ini ditujukan untuk menambah sumber daya bagi penelitian, pengajaran, dan pembelajaran di bidang budaya dan seni.

