BERITA TERKINI
Sastra dan Budaya Gayo Dinilai Berperan sebagai Arsip Sejarah hingga Mitigasi Bencana

Sastra dan Budaya Gayo Dinilai Berperan sebagai Arsip Sejarah hingga Mitigasi Bencana

Sastra dan budaya Gayo disebut memiliki peran strategis yang melampaui fungsi seni. Pandangan ini mengemuka dalam diskusi Podcast Lintas Gayo bersama sastrawan Fikar W Eda yang membahas warisan budaya sebagai instrumen penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk untuk mitigasi bencana dan penguatan identitas, Rabu (1/4/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Fikar menjelaskan bahwa masyarakat tradisional Gayo telah lama memiliki sistem pengetahuan lokal untuk membaca tanda-tanda alam. Ia mencontohkan istilah Teger, yakni suara gemuruh dari dalam tanah yang dipercaya sebagai peringatan dini sebelum terjadinya longsor.

Menurut Fikar, konsep tersebut sejalan dengan kearifan lokal Smong di Pulau Simeulue yang dinilai efektif menyelamatkan masyarakat saat tsunami terjadi. Ia menekankan bahwa sastra lisan tidak hanya berisi cerita, tetapi juga menyimpan pengetahuan penting yang berkaitan dengan keselamatan.

Fikar juga menyoroti kesenian Didong sebagai media literasi sekaligus rekam jejak sejarah masyarakat Gayo. Ia menyebut syair-syair Didong kerap memuat berbagai peristiwa, mulai dari bencana alam hingga dinamika sosial. “Didong adalah arsip hidup. Apa yang terjadi di masyarakat, tercatat dalam syair,” kata Fikar.

Ia mendorong agar karya-karya tersebut mulai didokumentasikan secara digital guna menjaga keberlanjutannya di era modern.

Selain Didong, diskusi turut mengangkat kopi sebagai bagian dari identitas budaya Gayo. Melalui riset bertajuk Doa Ni Kupi, Fikar menyampaikan bahwa kopi bukan budaya yang hadir semata akibat pengaruh kolonial, melainkan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Gayo sejak lama. Ia menilai kopi tidak hanya dipahami sebagai komoditas, tetapi juga bagian dari ritual sosial, adat, dan semangat kerja masyarakat.

Di tingkat nasional, eksistensi budaya Gayo disebut semakin mendapat pengakuan. Didong, misalnya, telah tampil di sejumlah panggung seperti Gedung MPR RI dan Taman Ismail Marzuki. Inovasi pertunjukan Didong di ruang urban, termasuk di bus Transjakarta, juga disebut menunjukkan kemampuan adaptasi kesenian tersebut di tengah modernisasi.

Menutup diskusi, Fikar berpesan kepada generasi muda Gayo agar menjaga dan merawat warisan budaya. Ia menegaskan bahasa dan kesenian merupakan identitas utama yang tidak boleh hilang. “Jika bahasa dan Didong hilang, maka jati diri sebagai orang Gayo juga akan memudar,” ujarnya.