BERITA TERKINI
Saat Kabut Asap Menjadi Cermin: Kritik Seni atas Karhutla yang Kita Anggap Biasa

Saat Kabut Asap Menjadi Cermin: Kritik Seni atas Karhutla yang Kita Anggap Biasa

Karhutla dan kabut asap kembali menjadi pembicaraan luas, bukan semata karena api, tetapi karena sebuah karya seni menampar rasa kebal kita.

Di tengah arus informasi yang cepat, publik mendadak berhenti pada satu gambar: perempuan berbusana adat, bermasker, berdiri di lanskap hutan yang hangus.

Karya itu dibuat Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi. Ia memotret sebuah kontras yang sulit ditolak mata, dan sulit dihindari nurani.

Di Surabaya, pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, membaca karya itu sebagai kritik sosial yang efektif.

Ia menegaskan seni bukan hanya ekspresi estetis. Seni juga alat untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Isu ini menjadi tren karena menyentuh dua hal sekaligus: bencana ekologis yang berulang, dan cara baru untuk membicarakannya tanpa menggurui.

-000-

Mengapa Isu Ini Meledak di Google Trends

Pertama, visualnya kuat dan mudah dibagikan. Foto dengan simbol budaya dan masker membuat orang berhenti menggulir layar.

Simbol itu terasa dekat. Busana adat mengingatkan identitas, sementara masker mengingatkan ancaman pada tubuh dan napas.

Kedua, publik lelah pada bahasa bencana yang itu-itu saja. Karya seni menawarkan pintu masuk yang lebih emosional dan reflektif.

Di ruang digital, emosi sering menjadi pemicu percakapan. Seni memindahkan isu teknis menjadi pengalaman manusia yang dapat dirasakan.

Ketiga, ada kegelisahan kolektif tentang “normalisasi”. Radius menyebut bahaya terbesar bukan hanya hutan terbakar.

Bahaya terbesar adalah ketika kita mulai menganggapnya wajar. Kalimat ini bekerja seperti alarm, karena menyasar kebiasaan sosial.

-000-

Dari Jambi ke Surabaya: Saat Karya Seni Menyeberangi Ruang

Karya Ichalago lahir dari konteks yang spesifik. Namun daya jelajahnya melampaui batas daerah, karena kabut asap adalah pengalaman lintas wilayah.

Radius menilai seni mampu mempertanyakan keadaan yang telanjur dianggap biasa. Dalam krisis lingkungan, pertanyaan itu menjadi penting.

Ketika sesuatu berulang, masyarakat berisiko menyusun mekanisme bertahan. Lama-lama, bertahan berubah menjadi menerima.

Di titik itu, bencana kehilangan daya kejut. Ia berubah menjadi kalender, bukan lagi peringatan.

Karya visual yang menampilkan hutan hangus dan tubuh yang bermasker memutus alur itu. Ia menginterupsi “kewajaran” yang berbahaya.

-000-

Bahasa Simbol: Busana Adat, Masker, dan Hutan yang Hangus

Radius mencontohkan busana adat sebagai simbol identitas budaya masyarakat setempat. Identitas bukan ornamen, melainkan penanda ruang hidup.

Ketika identitas ditempatkan di tengah lanskap terbakar, pesan yang muncul bukan sekadar kerusakan pepohonan.

Pesannya tentang manusia yang kehilangan tempat berpijak. Tentang komunitas yang identitasnya ikut terancam oleh krisis ekologis.

Masker menambah lapis makna. Ia menandai ancaman kesehatan, sekaligus menandai keadaan darurat yang bisa menjadi rutinitas.

Dalam satu bingkai, kita melihat tradisi dan kedaruratan berdampingan. Kontras itulah yang membuat kritiknya terasa tajam.

-000-

Seni sebagai Kritik: Membaca dengan Kacamata Kajian Budaya

Radius merujuk perspektif Cultural Studies. Dalam pandangan ini, kebudayaan bukan hanya tradisi yang dirayakan.

Kebudayaan adalah ruang pertarungan makna. Simbol, gambar, dan pertunjukan menjadi arena untuk menantang pandangan dominan.

Karhutla dan kabut asap sering dibicarakan dengan bahasa teknokratis. Angka, peta, dan prosedur mendominasi.

Bahasa itu penting, tetapi kadang menciptakan jarak emosional. Seni mengisi celah itu dengan menghadirkan pengalaman yang lebih dekat.

Ia tidak menggantikan kebijakan. Namun ia mengubah cara publik memandang masalah, dan perubahan cara pandang dapat mengubah tekanan sosial.

-000-

Normalisasi Bencana: Ketika Yang Berulang Menjadi “Biasa”

Radius menyoroti kecenderungan menormalisasi kerusakan yang berulang. Kebakaran hutan berisiko dianggap rutinitas tahunan.

Kabut asap yang mengganggu aktivitas perlahan dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan. Ini bukan ketegaran, melainkan kelelahan.

Dalam krisis lingkungan, kelelahan publik berbahaya. Ia menurunkan kewaspadaan dan melemahkan tuntutan agar pencegahan diperkuat.

Karya seni dapat mengusik kenyamanan itu. Ia memaksa kita melihat lagi, seolah-olah untuk pertama kali.

Di situlah kritiknya bekerja. Bukan lewat teriakan, tetapi lewat rasa tidak nyaman yang menetap setelah menatap gambar.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Tata Kelola, Kesehatan, dan Keberlanjutan

Radius mengingatkan karhutla perlu dilihat dalam konteks persoalan ekologis dan tata kelola lingkungan.

Pernyataan ini penting karena menggeser fokus dari “peristiwa kebakaran” menjadi “sistem yang memungkinkan kebakaran berulang”.

Bagi Indonesia, isu ini menyentuh tiga agenda besar. Pertama, tata kelola lingkungan yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, kesehatan publik. Masker pada karya itu mengingatkan bahwa krisis ekologis selalu berujung pada krisis tubuh.

Ketiga, keberlanjutan ruang hidup. Hutan bukan latar belakang, melainkan penyangga kehidupan, identitas, dan masa depan komunitas.

Ketika bencana berulang, yang dipertaruhkan bukan hanya musim ini. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan bangsa menjaga ruang hidupnya.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Seni Bisa Mengubah Cara Kita Peduli

Penjelasan Radius sejalan dengan gagasan luas dalam kajian komunikasi: narasi dan simbol dapat memengaruhi cara orang memahami isu.

Dalam studi budaya, representasi visual dipahami tidak netral. Ia membentuk apa yang dianggap penting, siapa yang dianggap terdampak.

Karena itu, foto perempuan berbusana adat bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah pernyataan tentang siapa yang menanggung akibat.

Riset lintas disiplin juga sering menekankan peran emosi dalam perhatian publik. Orang lebih mudah tergerak oleh cerita daripada statistik.

Di sini, seni bekerja sebagai jembatan. Ia membawa isu ekologis ke wilayah pengalaman, tanpa harus mengurangi kompleksitasnya.

Namun seni juga punya batas. Ia memantik percakapan, tetapi percakapan perlu diterjemahkan menjadi kesadaran kritis yang berkelanjutan.

-000-

Cermin dari Luar Negeri: Ketika Krisis Lingkungan Diperdebatkan lewat Seni

Di banyak negara, seni kerap menjadi bahasa alternatif untuk krisis lingkungan. Polanya mirip: visual yang kuat memicu percakapan publik.

Di Amerika Serikat, misalnya, kebakaran hutan berulang memunculkan gelombang karya fotografi dan pameran yang menyorot lanskap hangus.

Di Australia, pengalaman kebakaran besar juga melahirkan karya-karya yang menampilkan satwa, hutan, dan manusia dalam situasi rapuh.

Kesamaannya bukan pada detail peristiwa, tetapi pada fungsi seni. Ia menahan lupa, dan mengganggu kecenderungan publik untuk menormalkan.

Perbandingan ini membantu kita melihat bahwa Indonesia tidak sendiri. Banyak masyarakat menghadapi dilema yang sama: bencana berulang dan perhatian yang menurun.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik perlu mempertahankan kepekaan. Jangan biarkan kabut asap hanya menjadi latar rutinitas, apalagi sekadar bahan candaan.

Merawat kepekaan bisa dimulai dari hal sederhana: membicarakan dampak, mendengar pengalaman warga terdampak, dan menolak bahasa yang menyepelekan.

Kedua, ruang pendidikan dan komunitas bisa memanfaatkan seni sebagai medium literasi lingkungan.

Pameran, diskusi, dan kelas visual dapat menghubungkan isu ekologis dengan identitas, kesehatan, serta tanggung jawab bersama.

Ketiga, pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan perlu membaca sinyal budaya ini sebagai alarm sosial.

Radius menekankan pentingnya terus mempertanyakan tanggung jawab dan upaya pencegahan. Pertanyaan itu harus dijaga agar tidak padam.

Seni tidak menggantikan kerja teknis. Tetapi seni dapat menjaga tekanan moral, agar pencegahan dan tata kelola tidak berhenti pada slogan.

-000-

Penutup: Seni sebagai Pengingat, Kita sebagai Penjaga

Di ujungnya, karya Ichalago mengajukan pertanyaan yang sunyi tetapi tajam: apakah kita masih mampu terkejut oleh luka yang sama?

Radius menyebut seni dapat menginterupsi kewajaran itu. Interupsi ini berharga, karena ia mengembalikan bencana ke tempat semestinya.

Ia bukan rutinitas. Ia panggilan untuk bertanggung jawab, agar hutan tidak terus menjadi abu dan napas tidak terus menjadi taruhan.

Ketika seni membuat kita berhenti sejenak, mungkin itulah awal dari perubahan. Perubahan selalu dimulai dari kesediaan untuk melihat.

“Bahaya terbesar bukan hanya ketika hutan terbakar, tetapi ketika kita mulai menganggapnya biasa.”