BERITA TERKINI
Riset: Musik yang Didengar Usia 13–17 Tahun Berperan Membentuk Identitas hingga Dewasa

Riset: Musik yang Didengar Usia 13–17 Tahun Berperan Membentuk Identitas hingga Dewasa

Lagu-lagu yang akrab didengar pada masa remaja kerap terasa lebih membekas dibanding musik yang ditemukan di usia dewasa. Sejumlah temuan penelitian menunjukkan, efek tersebut bukan semata nostalgia, melainkan berkaitan dengan proses pembentukan identitas yang kuat pada rentang usia 13 hingga 17 tahun.

Dalam fase transisi ini, remaja berada pada periode penting untuk mencari dan merumuskan jati diri. Musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana ekspresi untuk menunjukkan siapa mereka, nilai apa yang mereka yakini, dan citra seperti apa yang ingin ditampilkan.

Merujuk data dari Jurnal Diba’ dan Repository UGM, pilihan genre musik sering kali menjadi indikator nilai-nilai yang dianut remaja. Melalui preferensi musik, mereka menyusun gambaran tentang identitas ideal yang ingin dibangun, sekaligus cara memperkenalkannya kepada lingkungan.

Pengaruh musik populer juga merembet ke aspek keseharian. Paparan musik dapat memengaruhi gaya berpakaian, penggunaan bahasa dan slang, hingga pola interaksi sosial. Di sisi lain, keterlibatan dengan idola atau basis penggemar (fandom) turut menciptakan rasa memiliki. Jurnal Seni & Budaya mencatat, keterlibatan semacam ini membantu pembentukan identitas sosial yang lebih kuat.

Dalam salah satu catatan studi, disebutkan bahwa musik kerap menjadi alat bagi anak muda untuk menunjukkan eksistensi sekaligus membentuk identitas yang mereka anggap ideal. Koneksi dengan kelompok yang memiliki selera dan cara pandang serupa juga dinilai memberi dukungan emosional, terutama di tengah dinamika pubertas.

Penjelasan lain datang dari sisi neurologis. Pada masa remaja, otak berada dalam kondisi yang sangat adaptif sekaligus sensitif. Musik yang didengar pada usia 13–17 tahun disebut cenderung memicu pelepasan dopamin dalam jumlah besar, sehingga membentuk ikatan saraf yang kuat. Kondisi ini membuat selera musik pada periode tersebut sering menjadi standar estetika yang bertahan hingga usia tua.

Dengan demikian, musik pada masa remaja dapat dipahami sebagai bagian dari fondasi identitas. Setiap daftar putar yang menemani masa sekolah dan pergaulan bukan sekadar kumpulan nada, tetapi turut membentuk karakter dan cara seseorang memaknai dirinya hingga dewasa.