BERITA TERKINI
Ravel Junardy Ungkap Hammersonic Festival Hanya Sekali Untung dalam 10 Tahun Penyelenggaraan

Ravel Junardy Ungkap Hammersonic Festival Hanya Sekali Untung dalam 10 Tahun Penyelenggaraan

CEO Ravel Entertainment, Ravel Junardy, membeberkan realitas di balik penyelenggaraan Hammersonic Festival yang dikenal sebagai salah satu festival musik metal terbesar di Asia Tenggara. Ia mengatakan, selama sekitar 10 tahun menggelar Hammersonic sejak 2012, dirinya hanya sekali merasakan keuntungan.

Pernyataan itu disampaikan Ravel saat menjadi narasumber dalam sesi talkshow APMI Talks bertajuk “Apa Bedanya Promotor & Event Organizer?” yang diinisiasi Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) pada Mei 2025. Diskusi tersebut dipandu Dino Hamid (Imaginaction) dan Ferry Darmawan (Plainsong Live).

“Gua bikin Hammersonic dari 2012, untungnya cuma satu kali doang,” ujar Ravel. Ia menjelaskan, dari satu dekade penyelenggaraan, keuntungan hanya terjadi pada 2015 dengan margin yang ia sebut relatif kecil, sekitar 10–20 persen, sementara tahun-tahun lainnya mengalami kerugian yang harus ditanggung penyelenggara.

Ravel menilai tingginya biaya produksi menjadi tantangan utama dalam industri promotor musik, terutama untuk genre ekstrem. Menurutnya, berbagai komponen biaya harus dipenuhi, mulai dari honor artis, kebutuhan produksi, hingga operasional tim.

“Kita harus bayar artisnya, production-nya, kita harus bayar semua tim kita yang saya sebut sebagai event organizernya dan semuanya,” kata Ravel.

Meski menghadapi risiko finansial, Ravel mengaku tetap bertahan karena pada awalnya didorong oleh passion dan kepuasan pribadi untuk menghadirkan festival bagi genre yang sebelumnya belum memiliki wadah di Indonesia.

“Purely sebuah kepuasan pribadi awalnya. Saya awalnya ingin bikin sebuah festival yang bisa menyenyangkan dari genre yang memang belum ada,” ungkapnya.

Seiring waktu, Ravel menyebut dirinya mulai mencari cara agar bisnis tetap berjalan. Ia menekankan bahwa pemasukan festival tidak semata bergantung pada penjualan tiket, melainkan juga pada penguatan intellectual property (IP) dan pengembangan lini bisnis turunan.

Dalam konteks Hammersonic, ia menyoroti penjualan merchandise sebagai penopang penting. Menurut Ravel, brand image yang kuat membuat produk fesyen Hammersonic diminati penonton yang dikenal dengan sebutan Hammerhead.

“Festival saya nggak untung, tapi merchandise saya laku. Merchandise saya tuh dibeli banyak orang. Penjualan merchandise kita itu 1 hari penjualan itu Rp3 miliar di Hammersonic,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Ravel menyampaikan bahwa kunci bertahan di industri promotor adalah membangun nilai merek yang pada akhirnya meningkatkan valuasi. Ia juga menekankan pentingnya mencari sumber pemasukan lain ketika penyelenggaraan acara tidak menghasilkan keuntungan.

“Jadi nggak semerta-merta bisnisnya rugi. Kita harus cari source lain seperti di merchandise. Seiring berjalannya waktu brand image-nya juga naik. Kalau brand-nya naik pasti ada nilai valuasinya,” tutup Ravel.