BERITA TERKINI
Psikiater Jelaskan Dampak Biologis Tarian Rumi pada Otak dan Pengelolaan Emosi

Psikiater Jelaskan Dampak Biologis Tarian Rumi pada Otak dan Pengelolaan Emosi

Jakarta — Tarian berputar atau Whirling Dervishes yang dipopulerkan Jalaluddin Rumi selama berabad-abad dikenal sebagai bentuk meditasi bergerak untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di era modern, praktik tersebut juga mulai dibaca melalui kacamata sains, yang menunjukkan bahwa gerak ritual ini dapat berdampak secara biologis pada otak manusia.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater, dalam sesi public talk bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”. Tarhan memaparkan penelitian yang dipublikasikan pada 2014 mengenai pengaruh ajaran dan praktik Rumi terhadap fungsi otak.

Menurut Tarhan, ketika seseorang melakukan tarian berputar dengan penuh penghayatan, bagian otak yang paling aktif adalah lobus frontal atau prefrontal cortex. Area ini disebut berperan sebagai pusat kendali yang berkaitan dengan pengaturan perasaan, pengambilan keputusan, serta perilaku sosial.

Tarhan menjelaskan, stimulasi pada bagian tersebut memicu pelepasan hormon kebahagiaan secara alami. Ia juga menyebut adanya temuan serupa pada praktisi meditasi Buddhis, ketika kondisi ketenangan mendalam muncul saat seseorang merasa kebutuhan emosionalnya terpenuhi melalui koneksi spiritual.

“Tarian Rumi membuktikan bahwa kebahagiaan sejati dapat dijemput secara biologis melalui stimulasi otak yang selaras dengan penyerahan diri secara spiritual,” ujar Tarhan.

Dalam penjelasannya, Tarhan menekankan bahwa tarian Rumi bukan sekadar gerakan berputar tanpa makna. Setiap unsur gerak dipandang memiliki keterkaitan dengan manajemen emosi dalam konteks psikiatri.

Gerakan berputar dari kiri ke kanan, misalnya, dimaknai sebagai perjalanan hati menuju Tuhan. Secara neurologis, fokus pada gerakan ritmis disebut membantu menenangkan sistem saraf yang tegang.

Posisi tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah melambangkan menerima rahmat dari Allah untuk disalurkan kepada sesama makhluk. Tarhan menilai simbol ini dapat menghadirkan perasaan “bermakna” dalam diri, yang ia sebut sebagai kunci kebahagiaan autentik.

Sementara itu, kepala yang menunduk dipahami sebagai simbol tawadhu atau kerendahan hati. Dari sisi psikologis, sikap ini disebut berfungsi menekan ego atau narsisme yang kerap menjadi sumber stres di masyarakat modern.

Tarhan juga menyoroti simbol pelepasan “jubah hitam” sebelum menari. Dalam perspektif psikiatri yang ia paparkan, tindakan tersebut dimaknai sebagai penyucian jiwa dan ajakan untuk “meleburkan diri” hingga ego mengecil. Ketika ego menurun, kecemasan terhadap hal-hal duniawi pun disebut ikut berkurang.

“Manusia datang ke dunia ini untuk mendidik nafsunya agar mencapai hakikat kebenaran,” kata Tarhan. Ia menambahkan, pengendalian nafsu yang disimbolkan dengan ikat pinggang hitam pada kostum penari dipandang sebagai latihan untuk mengendalikan emosi, bukan dikendalikan olehnya.

Tarhan menyimpulkan, praktik tasawuf yang diajarkan Rumi ratusan tahun lalu dinilai masih relevan untuk dibahas dalam konteks kesehatan mental modern. Ia menilai, penggabungan akal dan wahyu dapat membawa manusia pada kondisi hadir sepenuhnya di hadapan Tuhan, yang menurutnya menghadirkan kedamaian bahkan di tengah situasi sulit.