BERITA TERKINI
Perdebatan Vokal AI dan Penyanyi Manusia: Soal Akurasi, Emosi, dan Makna Musik

Perdebatan Vokal AI dan Penyanyi Manusia: Soal Akurasi, Emosi, dan Makna Musik

Perdebatan di media sosial tentang apakah AI mampu bernyanyi lebih “emosional” daripada penyanyi sungguhan kembali mengemuka setelah lagu “50 Years Later” versi AI beredar luas. Perbincangan ini turut dipengaruhi oleh fakta bahwa lagu tersebut telah diaransemen ulang dan dibawakan oleh sejumlah vokalis pria ternama, seperti Anh Tú, Quốc Thiên, Tùng Dương, dan lainnya.

Fenomena cover dan lagu yang dihasilkan AI kini semakin umum. Banyak pendengar menilai vokal AI terdengar nyaris sempurna: tepat nada hingga akhir, tanpa fals, tanpa napas terengah-engah, dan tanpa ritme yang meleset. Bagi sebagian orang, kualitas ini dianggap sebagai bentuk “kesempurnaan” baru dalam produksi musik.

Namun, justru karena tingkat akurasi tersebut, muncul pertanyaan apakah perbandingan AI dan manusia memang relevan. Tùng Dương menilai membandingkan keduanya dalam skala yang sama sejak awal bisa menjadi perbandingan yang tidak adil, karena AI bekerja sebagai algoritma, sementara penyanyi manusia membawa pengalaman hidup.

Secara teknis, suara AI dapat mencapai akurasi yang hampir sempurna. Dalam konteks perkembangan teknologi yang cepat, hal ini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan dan bahkan mulai menjadi standar baru di sejumlah produksi musik. Meski begitu, musik dipandang bukan semata persoalan matematika. Pengalaman menikmati musik juga tidak selalu dapat diukur lewat perbandingan akurasi semata, sebagaimana tersirat dalam lirik Den: “Jika Anda harus berpikir sambil mendengarkan musik, Anda lebih baik mengerjakan matematika” dari lagu “Sing for Life and Sing for You”.

Di sisi lain, Ha Anh Tuấn berulang kali menekankan bahwa musik seharusnya menjadi pengalaman nyata, emosi nyata, dan dihadirkan oleh orang-orang nyata. Walau tidak secara langsung menyebut “AI vs penyanyi,” penekanan itu kerap dibaca sebagai penegasan bahwa nilai musik terletak pada pengalaman hidup dan panggung yang autentik.

Pandangan ini berangkat dari gagasan bahwa nyanyian manusia mungkin tidak selalu 100% akurat, tetapi memiliki kemampuan untuk mencerminkan kehidupan secara jujur—kenangan, rasa sakit, kegembiraan, serta berbagai nuansa emosi seperti bahagia, marah, cinta, dan benci. Hal-hal tersebut dinilai masih sulit dicapai teknologi, betapapun canggihnya.

Perdebatan serupa tidak hanya terjadi di Vietnam. Sejumlah musisi internasional juga menyuarakan kekhawatiran terhadap gelombang AI di industri musik. Billie Eilish, misalnya, pernah menyampaikan kekhawatiran bahwa AI yang “belajar” dan meniru suara artis dapat mengikis nilai kreativitas individu.

Sting menekankan musik seharusnya lahir dari “hati dan pikiran manusia,” bukan dari algoritma yang dilatih menggunakan data. Sementara itu, Hozier mengingatkan risiko ketika musik terdorong menjadi produksi industrial: semua terdengar “benar,” tetapi kehilangan kedalaman.

Meski begitu, tidak semua musisi memandang AI sebagai ancaman. Grimes mengambil sikap lebih terbuka dengan mengizinkan suaranya digunakan dalam produk AI, selama ada pembagian keuntungan. Dalam sudut pandang ini, AI dilihat bukan sebagai musuh, melainkan alat—bahkan mitra baru dalam kreativitas.

Namun, bahkan pada pendekatan yang paling terbuka sekalipun, batas antara “alat bantu” dan “pengganti manusia” tetap menjadi titik kehati-hatian. AI memang telah digunakan dalam industri musik, terutama untuk pembuatan demo, pengembangan ide, atau dukungan produksi. Teknologi ini dapat memperpendek waktu kerja, mengoptimalkan biaya, dan membuka peluang eksperimen baru. Meski demikian, terdapat jarak yang jelas antara peran sebagai “pendukung” dan peran sebagai “pengganti.”

Pada akhirnya, perdebatan soal siapa yang bernyanyi lebih baik sering kali mengarah pada satu kesimpulan: vokalis papan atas seperti Tùng Dương bukan hadir untuk membuktikan kesempurnaan teknis. Mereka mengingatkan bahwa musik adalah kisah kemanusiaan—dengan segala keterbatasan, kekurangan, luka, dan keindahan yang nyata.