BLORA — Novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada 1949 akan dihadirkan kembali melalui pergelaran panggung kolaboratif di Blora. Pertunjukan yang mengolah nukilan cerita berlatar Blora dan sekitarnya itu dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 9 Agustus, pukul 19.00 WIB di pendapa rumah dinas Bupati Blora.
Pergelaran bertajuk Perburuan Pramoedya dari Blora ke Jakarta ini digarap oleh Perkumpulan Seni Nusantara Baca (PSNB) bekerja sama dengan Rumah Literasi (RuLi) serta Dewan Kebudayaan Blora. Karya ini merupakan alih wahana kreatif dari sastra tulis ke pertunjukan, dengan memadukan pembacaan dramatik, tari kontemporer, musik gesek, piano, seni rupa dan visual, serta elemen dokumentasi sejarah.
PSNB menyebut pertunjukan tersebut tidak hanya menonjolkan sisi estetika, tetapi juga diarahkan untuk menggugah kesadaran sejarah dan budaya, serta semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Penonton diajak merenungkan tema perjuangan, pengorbanan, kegetiran, jiwa kesatria, penyesalan, dan permaafan yang melibatkan sejumlah tokoh dalam novel.
“Ini bukan hanya soal menghadirkan pertunjukan seni, tapi bagaimana seni membicarakan sastra dan nilai-nilai kebangsaan yang relevan hingga hari ini,” kata Ketua Perkumpulan Seni Nusantara Baca sekaligus produser pertunjukan, Engelina Prihaksiwi.
Menurut penyelenggara, salah satu kekhasan proyek ini terletak pada pendekatan kolaboratif dan lintas generasi. Seniman yang terlibat berasal dari berbagai disiplin—teater, tari, musik, hingga seni rupa—serta lintas wilayah dari Blora hingga Jakarta. Proses kreatifnya dilakukan melalui diskusi, riset, dan pengalaman kolektif yang juga dimaksudkan sebagai ruang regenerasi dan transfer pengetahuan di komunitas seni.
Blora dipilih sebagai titik awal karena merupakan tempat kelahiran Pramoedya sekaligus latar sejarah novel Perburuan. Setelah itu, program ini diarahkan menyapa masyarakat Jakarta, terutama kalangan muda yang disebut belum banyak mengenal karya-karya Pramoedya. Selain penonton umum, audiens juga ditargetkan mencakup akademisi, kritikus seni, pengamat budaya, serta komunitas sastra.
Di Jakarta, pertunjukan dijadwalkan digelar di Teater Salihara pada 23 dan 24 Agustus 2025. Sebelumnya, versi awal pergelaran bertajuk Perburuan Pramoedya telah dipentaskan pada 16 Oktober 2023 di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta dan disebut mendapat respons positif dari publik.
Selain pementasan, PSNB menyiapkan program pendamping berupa diskusi publik, pemutaran arsip sejarah, lokakarya, hingga dokumentasi digital. Rangkaian ini ditujukan agar pengalaman penonton tidak berhenti di ruang teater, melainkan berlanjut dalam bentuk refleksi dan pembelajaran yang lebih luas.
Dalam proses produksi, tim menghadapi tantangan untuk menerjemahkan teks sastra klasik menjadi pertunjukan yang tetap setia pada pesan aslinya, namun dapat menjangkau audiens masa kini. Tantangan lain adalah meramu berbagai elemen seni agar padu secara harmonis.
“Bagaimana kita bisa menjembatani dunia teks yang kuat seperti novel Perburuan karya Pramoedya yang berlatar di Blora tepat pada saat Proklamasi pada 17 Agustus 1945 dikumandangkan di Jakarta dengan ekspresi panggung yang hidup dan dinamis, itu adalah tantangan sekaligus peluang besar,” ujar penulis naskah sekaligus sutradara, Landung Simatupang.
Penyelenggara menilai program ini memiliki dampak berlapis, mulai dari sisi edukasi sebagai media pembelajaran sejarah, dari sisi seni melalui pendekatan multidisiplin, hingga sisi sosial lewat penguatan jejaring antar-seniman dan dorongan regenerasi kreatif. Pergelaran ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Abadi Kebudayaan.

