Pekan Francophonie 2026 digelar di Surabaya dengan rangkaian pertunjukan musik akulturasi dan pemutaran film internasional. Perayaan ini menjadi bagian dari peringatan bahasa Prancis yang disebut sebagai bahasa keempat paling berpengaruh dalam perdagangan global, serta dirayakan oleh sekitar 60 ribu pelajar di Indonesia.
Selain itu, Pekan Francophonie juga menjadi momentum mengenang berdirinya Organisation Internationale de La Francophonie pada 1970. Komunitas ini kini mencakup 93 negara yang menyatakan komitmen pada perdamaian dan kerja sama internasional.
Penanggung Jawab Kebudayaan dan Komunikasi IFI Surabaya, Pramenda Krishna, mengatakan kegiatan ini bertujuan menampilkan sisi dinamis bahasa Prancis sekaligus mempererat hubungan komunitas pendidikan dan kebudayaan di Indonesia dalam semangat keberagaman dan solidaritas global.
“Pekan Francophonie tahun ini adalah perayaan atas keragaman ekspresi budaya. Kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Prancis bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga jembatan seni,” ujar Krishna, Kamis (7/5).
Di panggung musik, acara tahun ini menampilkan perpaduan tradisi dan modernitas. Instrumen suling dan sitar hadir berdampingan dengan penampilan duo internasional Dorsaf Hamdani dan Zied Zouari. Dengan dukungan Kedutaan Tunisia, keduanya membawakan lagu-lagu klasik Prancis yang diperkaya sentuhan Arab.
Sentuhan lokal turut mewarnai perayaan. Seniman Surabaya, Supianto, menampilkan boneka raksasa yang merepresentasikan tokoh ikonik Prancis dan Indonesia. Pertunjukan ini dilengkapi iringan musik marching dari kelompok Grobak Kletek.
Selain musik, Pekan Francophonie 2026 di Surabaya juga menghadirkan program sinema yang menayangkan karya dari sejumlah negara anggota. Film yang diputar antara lain Mary Anning dari Swiss, Our Blossom dari Hungaria, Le syndrome des Amours Passées dari Belgia, serta Becho dari Uruguay.