BERITA TERKINI
Oki Honestian Merawat Ekonomi Kreatif Skena Underground Malang lewat Usaha Kaus Band

Oki Honestian Merawat Ekonomi Kreatif Skena Underground Malang lewat Usaha Kaus Band

Gelombang musik underground di Malang Raya tidak hanya hidup di panggung dan lingkaran moshpit. Di baliknya, ada perputaran ekonomi kreatif yang bergerak mandiri lewat produksi dan peredaran merchandise, salah satunya kaus band lokal. Di jalur ini, Oki Honestian Adi menjadi salah satu pelaku yang konsisten menekuni usaha tersebut sejak belasan tahun lalu.

Dalam wawancara pada Selasa (9/6/2026), Oki menceritakan bagaimana ide yang ia mulai pada 2008 berkembang menjadi upaya yang bukan hanya berdagang, tetapi juga ikut menjaga jejak sejarah musik lokal melalui koleksi rilisan kaus band.

Oki mengawali langkahnya ketika kaus wisata dan pariwisata Malang mulai marak dan didominasi pabrik serta pengusaha bermodal besar. Ia memilih menoleh ke komunitasnya sendiri, yakni skena musik independen, yang menurutnya saat itu masih jarang disentuh oleh pelaku usaha kaus band lokal.

“Waktu itu saya coba baca peluang. Sepertinya di Malang Raya ini sedikit sekali orang yang memanfaatkan peluang usaha dengan memproduksi kaus merek dari band-band lokal. Padahal, produk seperti ini sebetulnya bisa jadi ciri khas dalam pergerakan musisi komunitas musik di Malang Raya,” kata Oki.

Strategi yang ia jalankan juga berbeda. Oki berkoordinasi dengan band-band lokal yang merilis merchandise melalui sistem pre-order (PO). Setelah masa rilis lewat dan kaus mulai langka, ia mengumpulkan rilisan tersebut dan menyimpannya. Menurut Oki, cara ini membuat stok rilisan lama tetap tersedia ketika sudah sulit ditemukan di pasaran.

“Di kemudian hari, saat semua orang sudah enggak punya, kita masih punya. Jadi ada rilisan atau produksi tahun '98, tahun 2000, kita masih menyimpannya dan bisa kita sebar lagi ke pasaran,” ujarnya.

Pilihannya fokus pada jalur underground ia kaitkan dengan karakter Malang Raya yang dinilai subur untuk musik arus pinggiran. Oki memperkirakan ada ribuan anak muda di Malang yang menjadi penikmat musik underground, dengan kekuatan komunitas yang kini tidak bertumpu pada satu pusat, melainkan ditopang jaringan kecil yang mandiri.

Ia menaksir skena di Malang ditopang lebih dari 50 kolektif musik, dengan jumlah grup mencapai lebih dari 100 band. Produktivitas panggung, menurutnya, berjalan dari agenda besar tahunan yang melibatkan jaringan Malang Raya hingga pertunjukan rutin mingguan di level kolektif kecil yang menampilkan 5 sampai 10 band secara bergantian.

Di sisi lain, keterbatasan ruang pertunjukan masih menjadi tantangan, terutama di Kota Batu. Oki menyebut di Kota Malang masih ada beberapa titik yang bisa dimanfaatkan, seperti FMS Space, Gedung Kesenian Gajayana, dan Rocket Cafe di samping Balai Kota. Sementara di Batu, keterbatasan tempat membuat komunitas kerap meminjam lokasi seperti Reswari dan Aula Embun Pagi.

“Kalau di Batu, kita memang kekurangan tempat. Jadi biasanya kita pinjam tempat seperti di Reswari, Aula Embun Pagi,” ucapnya.

Kondisi tersebut memunculkan kreativitas lain: konser musik dipadukan dengan kegiatan sosial lingkungan seperti menanam pohon. Dalam konsep ini, ruang terbuka seperti Coban Rondo, Coban Talun, Bukit Pinus, hingga PCM Bumiaji dapat menjadi lokasi pertunjukan.

Di berbagai acara musik itulah Oki menjalankan pola pemasaran yang mengandalkan kehadiran langsung. Selain memanfaatkan media sosial untuk pemasaran harian, ia rutin hadir sebagai media support dan membuka stan bersama pedagang lainnya. Oki menilai praktik ini memperlihatkan solidaritas di skena underground, termasuk kebiasaan sebagian penjual menyisihkan rezeki untuk membantu panitia acara.

“Kita buat beberapa booth di lapangan agar teman-teman yang jualan kaos dan aksesori bisa sama-sama hidup dan saling menopang. Menariknya, anak-anak komunitas ini punya kesadaran sendiri. Kalau barangnya laku, mereka pasti menyisihkan sedikit rezekinya untuk panitia, entah buat tambahan beli makan atau beli air minum. Hubungannya sangat organik,” tuturnya.

Bagi yang ingin mencari koleksi kaus musik secara langsung, Oki menyebut kiosnya, Chaos_Batu, beralamat di Jalan Alpukat Nomor 10, RT 03/RW 08, Binangun, Bumiaji.

Ketika ditanya mengenai ekspansi pasar dan adopsi sistem modern, Oki menekankan pentingnya pergerakan fisik dan jejaring antar-kota. Ia menilai pelaku usaha perlu rajin mendatangi kota lain untuk mempromosikan band Malang sekaligus membawa pulang kaus band luar kota untuk dikenalkan di Malang, sebagai hubungan timbal balik yang menjaga ekosistem tetap hidup.

Soal keterbatasan modal, Oki mengakui hal itu memengaruhi kemampuannya menyewa tempat komersial di pusat kota. Namun, ia memilih memprioritaskan modal untuk memperbanyak produksi ketimbang menghabiskannya untuk biaya sewa yang tinggi.

“Kita memang butuh sedikit ruang untuk memasarkan ini secara nyata langsung di lapangan, selain lewat media sosial. Cuma, kita enggak mau manja. Daripada modal habis untuk sewa tempat yang mahal, mendingan modal yang ada kita manfaatkan untuk memperbanyak produksi dagangan kausnya,” kata Oki.