Di sejumlah komunitas pegunungan di Vietnam, musik tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus penanda identitas. Di tengah perubahan zaman, beberapa tetua desa dan pengrajin terus menjaga bunyi-bunyian warisan itu—bukan hanya untuk dipentaskan, tetapi juga untuk diingat dan diwariskan.
Di Provinsi Quang Ngai, desa-desa masyarakat Cor yang berada di bawah kanopi hutan masih akrab dengan dentuman ritmis gendang dan gong. Bagi masyarakat Cor, musik hadir dalam berbagai lapisan kehidupan, dari pekerjaan harian hingga ritual penting. Ketika gong dibunyikan, suasana desa ikut bergerak: para tetua, kaum muda, hingga perempuan berpartisipasi menjaga irama.
Salah satu tradisi yang menonjol adalah “duel gong”, pertunjukan tanya jawab yang menuntut keterampilan dan koordinasi, dan kerap menjadi bagian yang paling ditunggu dalam festival. Dalam konteks inilah, sesepuh Ho Van Bien (lahir 1964, Komune Tra Bong, Quang Ngai) dikenal sebagai sosok yang lama mendedikasikan diri pada budaya Cor.
Ia mengatakan mulai berlatih memainkan gong sejak usia 14 tahun dan selalu ikut setiap festival desa. Sejak 1983, Ho Van Bien bergabung dengan kelompok seni pertunjukan lokal dan tampil di dalam maupun luar negeri. Pada 2009, ia bersama sekelompok seniman tampil di Pulau Jeju, Korea Selatan, dan meninggalkan kesan melalui kompetisi bermain gong.
Namun, perhatian utamanya bukan pada perjalanan atau panggung pertunjukan, melainkan keberlanjutan tradisi di tangan generasi muda. Ia bersama para pengrajin lain mendatangi desa-desa, memilih anak muda yang dinilai berbakat, lalu mengajarkan cara memainkan gong serta menyanyikan lagu-lagu seperti Xa Ru dan A Gioi. Baginya, pelestarian gong tidak hanya menyangkut bunyi, melainkan juga memori komunitas.
Upaya serupa juga terlihat di komunitas pegunungan Da Nang. Sesepuh C’lâu Nhím (78 tahun, Komune Đông Giang) menjadi salah satu figur yang tekun merawat suara tradisional masyarakat Co Tu. Setelah bekerja di industri film dan memasuki masa pensiun, ia kembali ke desa, terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, dan melanjutkan pelestarian budaya.
Di usianya yang ke-70-an, ia masih rutin berkeliling desa, bertemu warga, berbincang dengan generasi muda, serta mendorong mereka belajar dan berlatih alat musik tradisional. Ia dapat memainkan lebih dari 20 alat musik, mulai dari gendang ch’gan, par’lu, k’thur hingga alat musik gesek seperti abel dan h’jul. Setiap alat dimainkan dengan terampil, membangun nuansa bunyi yang lekat dengan pegunungan dan hutan.
Dalam festival, sosoknya—disebut sebagai tetua Landak—dengan topi berbulu, seruling, dan gong kerap menjadi daya tarik. Selain tampil, ia juga membuat alat musik sendiri. Di rumah komunal, sejumlah instrumen seperti khaen, zither, dan horn digantung rapi, menghadirkan ruang tempat musik hidup sebagai bagian dari keseharian desa. Ia menilai musik sebagai “urat nadi” kehidupan budaya dan mengingatkan bahwa tanpa pelestarian, generasi berikutnya bisa melupakan warisan tersebut.
Sementara itu, di Komune Dak Pring, komunitas Gié Triêng memiliki identitas bunyi tersendiri melalui alat musik dinh tut. Pengrajin Phong Quoc Quyen (58 tahun) menjelaskan, dinh tut berangkat dari kehidupan bertani. Instrumen ini terdiri dari enam tabung bambu dengan panjang dan nada berbeda: Pidu, Pidy, Chel, Chak, Ron 1, dan Ron 2.
Menurutnya, dahulu tabung bambu digunakan untuk menyimpan benih. Ketika angin melewati tabung, muncul suara yang terdengar menarik. Dari bunyi itulah masyarakat Gié Triêng kemudian membentuk dinh tut sebagai alat musik yang digunakan untuk hiburan sekaligus kebutuhan ritual.
Quyen menambahkan, pemain dinh tut harus sehat, memiliki pendengaran musik yang baik, dan menguasai teknik pengendalian napas. Dalam pertunjukan, enam orang berpartisipasi, meniup dinh tut sambil bergerak mengikuti irama, meniru gerakan menanam padi.
Dari sisi pembuatan, pengrajin bambu Phong Nhap (70 tahun) mengatakan satu set lengkap pipa bambu membutuhkan ketelitian dan pengalaman bertahun-tahun. Bambu harus cukup tua, lurus, dan memiliki ketebalan dinding yang tepat agar suara tidak retak saat dilubangi. Tiap tabung menghasilkan bunyi berbeda, dan perakitannya menuntut kemampuan mendengar serta menyesuaikan agar seluruh suara selaras. Ia menekankan, sedikit penyimpangan saja dapat mengubah bunyi.
Phong Nhap menyamakan bunyi dinh tut sebagai “tonik spiritual” yang membantu para lansia tetap bahagia dan sehat, sekaligus menghubungkan tradisi agar generasi muda lebih memahami dan mencintai budaya mereka. Ia juga menyebut jumlah orang yang masih mengetahui cara membuat bagian-bagian standar kian terbatas, sehingga ia tetap mengajar untuk menjaga kerajinan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelas pelatihan dibuka dan sejumlah festival dihidupkan kembali, menciptakan ruang bagi dinh tut dan bentuk musik tradisional lain masyarakat Gié Triêng untuk terus hadir dalam kehidupan desa. Di berbagai wilayah, upaya para tetua dan pengrajin ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya sering berlangsung melalui kerja sunyi—mengajar, membuat, memainkan, dan menjaga agar bunyi tradisi tetap terdengar dari generasi ke generasi.

