BERITA TERKINI
Paduan Suara Komunitas Menyatukan Beragam Generasi Lewat Musik

Paduan Suara Komunitas Menyatukan Beragam Generasi Lewat Musik

Berawal dari sekelompok pecinta musik yang ingin bernyanyi bersama, Gió Xanh atau Paduan Suara Angin Hijau kini berkembang menjadi ruang berkumpul bagi hampir 300 anggota dari berbagai usia dan profesi. Keberadaan paduan suara ini menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi titik temu yang menyatukan orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Pendiri sekaligus konduktor Paduan Suara Angin Hijau, Nguyen Hai Yen, mengatakan sejak awal komunitas ini dibangun dengan semangat terbuka dan tanpa diskriminasi berdasarkan usia, profesi, jenis kelamin, maupun latar belakang. Menurutnya, yang mempertemukan para anggota adalah kecintaan pada musik dan keinginan untuk terhubung melalui seni.

Salah satu ciri yang menonjol dari Gió Xanh adalah hadirnya berbagai generasi dalam ruang artistik yang sama. Dalam latihan maupun pertunjukan, anak-anak berusia enam atau tujuh tahun dapat berdiri berdampingan dengan anggota yang lebih tua, menciptakan suasana kebersamaan lintas usia.

Di antara para anggota, Nguyen Thi Tuyet Tam (87) tercatat sebagai yang tertua dan masih rutin mengikuti latihan. Ia menilai hal paling berharga dari paduan suara ini bukan hanya kegembiraan bernyanyi, melainkan juga perasaan hidup dalam keluarga multi-generasi. “Setiap kali saya pergi latihan atau berdiri di atas panggung untuk tampil, saya merasa lebih muda, lebih bahagia, dan lebih termotivasi untuk hidup sehat setiap hari,” ujarnya.

Selain kegiatan internal, Paduan Suara Green Wind juga aktif membawa musik ke masyarakat melalui konser yang diselenggarakan secara mandiri dan telah menjadi agenda tahunan. Hingga kini, kelompok tersebut telah menggelar 14 konser dengan memanfaatkan sumber daya para anggota serta dukungan penonton.

Model paduan suara komunitas multi-generasi juga terlihat pada Paduan Suara Thanh La, yang mengesankan karena melibatkan anggota penyandang disabilitas. Di ruang ini, musik menjadi jembatan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang untuk bertemu, saling mendukung, dan menemukan penghiburan. Konduktor paduan suara, Ha Ny, menyebut hal yang paling menyentuh baginya adalah perubahan positif pada para anggota: menjadi lebih percaya diri, lebih terbuka, dan lebih siap terhubung dengan komunitas melalui musik.

Tran Binh Minh dan Bach Thi Dung, anggota Paduan Suara Thanh La, mengaku sebelumnya tidak percaya diri dengan keterbatasan yang dimiliki dan menganggap bermain alat musik sebagai mimpi yang jauh. Namun, dengan dorongan dari komunitas, keduanya berlatih tekun hingga kini dapat memainkan dan menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. “Saya menyadari bahwa meskipun dengan keterbatasan saya sendiri, selama saya tidak menyerah, saya masih dapat mewujudkan impian saya. Musik telah memberi saya kegembiraan, kepercayaan diri, dan membantu saya lebih mencintai hidup setiap hari,” kata Minh.

Di luar paduan suara, Ha Ny juga mendirikan “Komunitas Bernyanyi Ukulele” yang terbuka bagi siapa saja yang mencintai musik dan ingin mendekatkan aktivitas bernyanyi serta bermain alat musik ke kehidupan sehari-hari. Komunitas ini turut memberi kesempatan bagi para lansia dan penyandang disabilitas untuk berpartisipasi, belajar, dan berintegrasi.

Meski demikian, keberlangsungan paduan suara komunitas menghadapi tantangan pendanaan. Saat ini, pembiayaan sebagian besar bergantung pada kontribusi anggota dan penonton, sehingga pemeliharaannya tidak selalu mudah. Namun, komunitas-komunitas tersebut tetap bertumbuh seiring nilai yang mereka hadirkan bagi masyarakat.