BERITA TERKINI
Musisi Muda Gayo Ciptakan Alat Musik Tiup dari Batang Kopi, Tampil di “Sengkewe Sepanjang Musim”

Musisi Muda Gayo Ciptakan Alat Musik Tiup dari Batang Kopi, Tampil di “Sengkewe Sepanjang Musim”

Musisi muda Gayo, Murtada Aulia, menciptakan alat musik tiup dari batang kopi dan menampilkannya dalam pertunjukan seni “Sengkewe Sepanjang Musim” yang digelar Komunitas Desember Kopi Gayo. Acara berlangsung pada Sabtu (4/4/2026) pukul 20.00 WIB di Taman Inen Mayak Teri, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan budaya yang didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Murtada Aulia, yang akrab disapa Tada, berasal dari Tansaren, Takengon, dan lahir pada 18 Agustus 2002. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Dalam aktivitas berkesenian, Murtada dikenal mengeksplorasi pertemuan musik tradisional dan modern, terutama melalui instrumen berbahan bambu serta komposisi musik etnik kontemporer. Ia menguasai sejumlah instrumen, antara lain suling bambu, karinding, didgeridoo, biola, flute, gitar, vokal, hingga rapai.

Selain memainkan berbagai alat musik, Murtada juga memiliki kemampuan menciptakan alat musik tradisional berbahan bambu. Ia aktif menulis lagu dan menyusun komposisi musik ilustratif yang memadukan unsur tradisi dan modernitas. Beberapa lagu daerah yang ia ciptakan di antaranya Enti, Relem, Lanih, dan Tareng.

Ketua Komunitas Desember Kopi Gayo, Fikar W Eda, menyebut keterlibatan Murtada menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan generasi muda dalam ruang ekspresi seni tradisi. “Kehadiran Murtada Aulia menunjukkan bahwa generasi muda Gayo memiliki energi kreatif yang kuat untuk merawat tradisi sekaligus mengembangkannya dalam bentuk-bentuk musikal baru yang relevan dengan zamannya,” ujar Fikar W Eda.

“Sengkewe Sepanjang Musim” merupakan teater puisi Tanah Gayo yang memadukan beragam unsur seni, seperti sebuku, didong banan, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, tari kopi, canang ngerje, serta pertunjukan musik kopi. Pertunjukan ini juga menghadirkan kolaborasi lintas generasi seniman Gayo.