Suasana sekolah yang terasa “kering” bukan merujuk pada cuaca, melainkan pada kondisi ketika semangat belajar meredup, disiplin longgar, dan kegiatan di kelas berjalan seperti rutinitas tanpa gairah. Pengalaman itu dialami seorang guru pada masa awal mengajar, saat ia mendapati banyak siswa datang terlambat, minat belajar rendah, dan daya tangkap pelajaran dinilai lemah.
Dalam situasi tersebut, ia mencari cara untuk mengubah iklim belajar tanpa pendekatan yang rumit. Pilihan itu jatuh pada musik. Meski mengaku bukan ahli musik dan hanya seorang pecinta, ia mulai memperkenalkan kebiasaan sederhana di kelas: memperdengarkan musik klasik pada aktivitas belajar tertentu. Menurut pengalamannya, langkah itu perlahan membuat suasana kelas berubah menjadi lebih tenang, fokus, dan terasa lebih hidup.
Perubahan yang ia rasakan di ruang kelas kemudian diperluas ke lingkungan sekolah. Pada pagi hari, siswa disambut dengan alunan musik klasik. Doa pagi diupayakan lebih tertata dengan iringan yang dianggap sesuai, sementara lagu-lagu ibadat dilatih dengan lebih sungguh, tidak sekadar dinyanyikan.
Ia juga menceritakan momen ketika menemukan kolintang yang tersimpan di gudang dalam kondisi berdebu dan terlupakan. Bersama sejumlah siswa, ia mencoba menghidupkannya kembali. Dengan latihan yang dilakukan secara bertahap, terbentuk kelompok kolintang yang kemudian mampu tampil baik, meraih prestasi lomba, dan mendapat undangan mengisi berbagai acara.
Upaya penguatan kegiatan musik di sekolah berlanjut dengan seleksi penyanyi, pembentukan paduan suara, serta penyelenggaraan pentas seni. Kegiatan itu, menurut cerita tersebut, turut menarik kehadiran orang tua yang datang menyaksikan dan menunjukkan kebanggaan. Bersama pimpinan sekolah dan rekan guru, pengembangan drum band juga dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun atmosfer sekolah yang lebih hidup.
Dampak yang dicatat tidak hanya tampak di panggung. Di kelas, siswa disebut menjadi lebih kritis, lebih berani bertanya, dan menunjukkan antusiasme belajar yang meningkat. Energi baru itu, meski sulit dijelaskan secara rinci, dinilai nyata terasa dalam keseharian sekolah.
Ketika kemudian dipindahtugaskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia kembali menemukan situasi serupa—kekeringan dalam bentuk berbeda pada remaja. Ia kembali menggunakan pendekatan yang sama dengan menghidupkan grup musik, paduan suara, penari, dan kolintang. Menurut pengalamannya, musik kembali memberi pengaruh positif.
Untuk menjelaskan mengapa musik bisa berdampak pada suasana belajar, ia menyinggung konsep cymatics, yaitu kajian tentang bagaimana getaran atau frekuensi membentuk pola dan struktur. Dalam ilustrasi yang ia gunakan, partikel halus yang terkena getaran suara dapat membentuk pola yang teratur. Dari situ ia menyimpulkan bahwa musik bukan sekadar bunyi, melainkan energi yang dapat memengaruhi ruang, suasana, dan kondisi batin pendengarnya.
Ia juga menilai musik yang dipilih dan ditata dengan tepat dapat menciptakan “iklim tak terlihat” yang dirasakan dalam sebuah ruang. Dalam perbandingan sederhana, ia menggambarkan perbedaan antara ruang yang hening tetapi tegang dengan ruang yang diisi musik lembut dan tertata—ruang kedua dinilai lebih “hidup”.
Menurut narasi tersebut, pada frekuensi tertentu musik diyakini dapat menenangkan pikiran, menstabilkan emosi, dan membantu konsentrasi. Ia menyebut adanya berbagai penelitian yang menunjukkan musik dapat meningkatkan fokus, memperbaiki daya ingat, dan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif.
Berangkat dari pengalaman itu, ia menyimpulkan musik tidak semestinya dipandang sebagai pelengkap semata. Ketika sekolah kehilangan ruang bagi musik, ia menilai vitalitas sekolah dapat ikut memudar: suasana menjadi datar, relasi terasa kaku, dan proses belajar tidak mengalir. Sebaliknya, kehadiran musik yang dipilih dengan tepat dan dikelola dengan sungguh-sungguh dianggap mampu menjadi dorongan untuk membangun budaya sekolah yang lebih bersemangat.
Ia menutup refleksinya dengan pesan bahwa jika sebuah sekolah mulai terasa “kering”—kurang semangat, kurang daya, dan kurang kehidupan—solusinya tidak selalu harus rumit. Dalam pengalamannya, musik bisa menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali suasana belajar.

