BERITA TERKINI
Musik Berbasis AI Makin Dilirik di Vietnam: Antara Daya Tarik Baru dan Tantangan Regulasi

Musik Berbasis AI Makin Dilirik di Vietnam: Antara Daya Tarik Baru dan Tantangan Regulasi

Sejak akhir 2024, pasar musik digital di Vietnam mencatat lonjakan kemunculan karya musik yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari penulisan lagu dan aransemen hingga penampilan vokal. Sejumlah lagu berbasis AI bahkan dengan cepat menjadi tren dan mengumpulkan puluhan juta penayangan di berbagai platform.

Salah satu contoh yang ramai dibicarakan adalah 50 năm sau, versi Vietnam dari lagu Tiongkok yang dibawakan oleh AI. Lagu tersebut menjadi populer dan memicu puluhan ribu diskusi di media sosial. Sebelumnya, lagu Được—dengan lirik terinspirasi puisi Buddha—menyebar berkat nuansa optimistis dan positif. Sementara itu, Say một đời vì em, karya Huong My Bong dan Ken Quach yang dibawakan AI, masuk daftar 10 lagu Vietnam yang paling banyak dicari pada 2025. Selain itu, banyak video AI dari lagu-lagu Trịnh Công Sơn serta cover musik Đàm Vĩnh Hưng dan Quốc Thiên juga menarik jutaan penonton.

Sejumlah musisi menilai daya tarik utama musik AI terletak pada unsur kebaruan. Penyanyi Bao Tram Idol menyebut AI masih merupakan bidang baru yang memicu rasa penasaran penonton. Menurutnya, ketika audiens mengetahui sebuah lagu dibawakan AI, respons seperti “AI bernyanyi dengan baik” atau “AI sangat bagus” kerap muncul dan mendorong orang untuk membagikannya.

Pandangan serupa disampaikan penyanyi Tùng Dương. Ia menilai AI mampu bernyanyi tanpa sumbang, tanpa kehabisan napas, dan tanpa kehilangan ritme. Ia menggambarkan proses AI sebagai pengolahan suara yang “bersih, akurat, sempurna dalam nada dan durasi, dan tanpa kesalahan”, sekaligus mampu menciptakan kualitas suara yang bagi manusia membutuhkan waktu panjang untuk dipelajari.

Dari sisi produksi, komposer Võ Hoài Phúc menyoroti perkembangan yang semakin pesat. Ia mengingatkan bahwa pada tahap awal, vokal AI kerap terdengar monoton, kurang emosi, dan jedanya tidak alami. Namun belakangan, ia melihat banyak produk yang menunjukkan AI mulai dapat menangani pernapasan, jeda, dan ekspresi emosi dengan lebih baik. Baginya, kemajuan teknologi dari waktu ke waktu adalah hal yang tak terhindarkan, dan AI diyakini akan terus maju dalam beberapa tahun mendatang.

Selain aspek vokal, aransemen modern juga menjadi faktor penting. Lagu-lagu berbasis AI umumnya mengusung melodi sederhana, bagian chorus yang cepat, serta durasi yang cocok untuk dijadikan musik latar di platform video pendek seperti TikTok dan Reels. Genre yang dipakai pun mengikuti selera populer—misalnya balada yang dipadukan dengan lo-fi dan pop—sehingga mudah didengarkan. Penulis Vi Hoàng Anh menilai AI menyerap informasi yang diberikan manusia, lalu memprosesnya agar sesuai dengan preferensi audiens.

Meski demikian, perdebatan tetap mengemuka mengenai batas antara karya musik dan simulasi. Tùng Dương menekankan bahwa seniman memasukkan pengalaman hidup—kenangan, luka, kegembiraan, dan kesedihan—ke dalam lirik dan karya mereka. Menurutnya, AI hanya mensimulasikan hal-hal tersebut, sehingga muncul pertanyaan: apakah itu musik, atau sekadar suara yang dioptimalkan?

Seiring popularitasnya, sejumlah seniman juga mendorong adanya regulasi yang jelas untuk penyanyi virtual dan produk musik berbasis AI. Mereka mengusulkan agar karya yang dihasilkan AI diberi anotasi atau penanda agar penonton tidak mengira itu artis sungguhan. Jika AI meniru suara dan gaya penyanyi tertentu, artis asli dinilai perlu memperoleh pembagian keuntungan secara proporsional. Tanpa prinsip semacam itu, mereka khawatir suara artis dapat “dikloning” tanpa kendali atas konteks kemunculannya atau konten yang dinyanyikan. Tùng Dương memperingatkan bahwa penonton bisa kehilangan kepercayaan karena sulit membedakan yang nyata dan simulasi, sementara dalam jangka panjang nilai unik tiap suara—yang ia sebut sebagai jiwa musik—berisiko terkikis.

Dari perspektif hukum, pengacara Hoàng Hà menilai peniruan suara atau gaya penyanyi oleh AI tidak bisa dilihat semata-mata sebagai isu hak cipta. Jika AI menggunakan lagu, rekaman, atau pertunjukan secara ilegal, hal itu masuk ranah hak cipta dan hak terkait berdasarkan Undang-Undang Kekayaan Intelektual. Namun, ketika AI hanya meniru gaya atau menciptakan suara yang mirip tanpa bukti penyalinan dari rekaman tertentu, hak cipta bukan satu-satunya dasar karena hukum tidak melindungi unsur gaya.

Dalam situasi demikian, ia menilai perlu pertimbangan mengenai hak dan data pribadi, karena suara dapat terkait dengan individu tertentu. Risiko hukum meningkat apabila peniruan membuat publik mengira artis tersebut ikut terlibat atau menyetujuinya. Menurut para pengacara, ketentuan Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, serta aturan perlindungan data pribadi perlu diterapkan secara bersamaan.

Hoàng Hà mengusulkan pembentukan mekanisme manajemen terpisah untuk musik AI, termasuk kewajiban transparansi data pelatihan serta pembedaan jelas antara karya, rekaman, vokal, dan gaya. Ia menekankan bahwa simulasi suara manusia asli memerlukan persetujuan eksplisit, dan produk komersial berbasis AI perlu diberi label. Selain itu, ia mengusulkan mekanisme perizinan dan pembayaran royalti untuk penggunaan data musik dalam pelatihan AI, dengan tujuan memastikan transparansi input dan output serta pembagian keuntungan yang adil.