BERITA TERKINI
Musik Berbasis AI Kian Arus Utama: Penyanyi Virtual Xania Monet Teken Kontrak Rekaman US$3 Juta

Musik Berbasis AI Kian Arus Utama: Penyanyi Virtual Xania Monet Teken Kontrak Rekaman US$3 Juta

Musik berbasis kecerdasan buatan (AI) bergerak cepat dari sekadar eksperimen menjadi bagian dari arus utama industri hiburan. Perkembangan ini mengubah cara musik diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi, sekaligus memunculkan perdebatan tentang hak cipta, nilai kreativitas, hingga masa depan para seniman.

Di tingkat global, pasar musik berbasis AI dinilai sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam industri konten digital. Laporan Goldman Sachs memperkirakan pendapatan musik yang didukung AI dapat mencapai sekitar US$4 miliar pada 2030. Meski nilainya belum menjadi porsi terbesar industri, proyeksi tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan di pasar yang masih berkembang.

Di sisi lain, Federasi Industri Fonografi Internasional melaporkan pendapatan musik global melampaui US$28 miliar pada 2023. Angka ini menggambarkan besarnya ruang yang dapat dimasuki teknologi seperti AI dalam membentuk ulang ekosistem musik.

Salah satu contoh yang menonjol adalah Xania Monet, “penyanyi virtual” yang diciptakan musisi Telisha “Nikki” Jones melalui platform musik AI Suno. Monet disebut telah menembus pasar musik profesional, masuk tangga lagu radio di Amerika Serikat, dan bahkan mencapai peringkat pertama di beberapa kategori.

Katalog musik Monet juga dilaporkan meraih puluhan juta streaming. Sementara itu, kanal YouTube-nya—meski baru aktif sejak pertengahan 2025—telah menarik hampir 30 juta penayangan dan ratusan ribu pelanggan. Perkembangan ini memperlihatkan kian kaburnya batas antara seniman manusia dan produk teknologi.

Puncaknya, pada akhir 2025, Xania Monet menandatangani kontrak rekaman senilai US$3 juta dengan Hallwood Media. Kesepakatan ini dipandang sebagai titik balik bagi keberadaan penyanyi AI di industri rekaman.

Namun, ledakan musik AI juga memunculkan kontroversi. Billboard menilai AI berkontribusi pada “demokratisasi proses kreatif” karena memungkinkan siapa pun membuat lagu dalam hitungan menit tanpa pengetahuan musik mendalam. Di saat yang sama, kemudahan ini memicu lonjakan jumlah konten yang memunculkan risiko “inflasi musik”, ketika pasar dibanjiri rilisan baru dalam volume yang sangat besar.

Respons dari pelaku industri pun beragam. Artis Grimes termasuk yang mendukung, dengan mengizinkan pengguna memanfaatkan vokalnya untuk menciptakan karya baru selama ada pembagian pendapatan. Ia menilai AI bisa menjadi alat kreatif yang kuat apabila digunakan secara transparan. Sebaliknya, sejumlah seniman lain khawatir AI melanggar hak kekayaan intelektual karena vokal dan gaya personal dapat disalin tanpa persetujuan.

Telisha “Nikki” Jones, kreator di balik Xania Monet, menyampaikan bahwa ia menggunakan Suno untuk membuat vokal, sementara seluruh lirik ditulis olehnya. Ia menyatakan kisah dalam lagu-lagu Monet dibangun dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang-orang terdekat, sebagai upaya menjaga keaslian emosi. “Liriknya sepenuhnya karya saya sendiri, berdasarkan pengalaman hidup nyata. Semua yang telah saya alami, atau yang dialami teman dan keluarga dekat saya, telah saya tuliskan. Xania adalah perpanjangan dari diri saya, jadi saya melihatnya sebagai orang yang nyata. Ada emosi dan jiwa yang tulus yang dituangkan ke dalam lirik-lirik itu,” kata Jones.

Dari sudut pandangnya, AI bukan pengganti manusia, melainkan alat yang mempercepat proses produksi dan membantu ide lebih cepat sampai ke publik. Meski demikian, sebuah studi yang diterbitkan di Harvard Business Review menyoroti bahwa peningkatan produktivitas kreatif akibat AI dapat diikuti penurunan nilai ekonomi konten jika tidak ada mekanisme perlindungan yang memadai. Studi tersebut menekankan nilai inti musik bukan pada kecepatan produksi, melainkan keunikan dan kemampuannya membangun koneksi emosional dengan pendengar—unsur yang disebut belum sepenuhnya dapat digantikan AI.

The Economist juga memperingatkan risiko “kejenuhan konten” ketika pasar dibanjiri karya dengan struktur dan gaya yang serupa. Kekhawatiran ini menguat karena platform streaming semakin bergantung pada algoritma rekomendasi yang cenderung memprioritaskan konten yang dianggap “aman”, mudah didengarkan, dan mudah dibagikan—karakteristik yang dapat direplikasi secara massal oleh AI.

Perubahan itu mulai tercermin di layanan streaming. Deezer melaporkan proporsi musik yang dihasilkan AI dalam sistemnya meningkat signifikan pada 2025, dengan sekitar 10% konten terdeteksi memiliki elemen AI sejak awal tahun dan terus bertambah. Deezer menyatakan telah mengembangkan alat identifikasi untuk menghapus sepenuhnya lagu-lagu yang dihasilkan AI dari sistem rekomendasinya guna menekan penipuan dan melindungi artis yang sah.

Spotify juga dilaporkan memperkuat langkah penyensoran, meski kontrol penuh disebut masih menjadi tantangan. Sistem yang berjalan mengandalkan algoritma yang dipadukan dengan penyensoran manual, tetapi kemampuan AI yang semakin canggih membuat pembedaan antara produk asli dan palsu kian sulit.

Isu lain yang mencuat adalah potensi reproduksi lagu-lagu populer. Meski platform seperti Suno menyatakan tidak mengizinkan penggunaan konten berhak cipta, masih ada celah dalam praktiknya. Pengguna dapat membuat lagu yang meniru melodi dan gaya tertentu hanya dengan beberapa langkah, cukup untuk membingungkan pendengar, lalu mengunggahnya ke platform musik dan memonetisasinya seperti karya legal.

Produser musik Amerika, David Israelite, menyatakan, “AI mungkin merupakan alat paling ampuh yang pernah muncul di industri musik, tetapi jika tidak dikelola dengan benar, AI juga dapat menjadi ancaman terbesar bagi hak-hak artis.” Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa laju perkembangan teknologi melampaui kerangka hukum yang ada.

Saat ini, sejumlah negara dan organisasi internasional mulai menyusun regulasi untuk mengendalikan penggunaan AI dalam musik, terutama terkait hak cipta dan hak moral. Namun, proses tersebut diperkirakan akan memicu perdebatan karena perlu menyeimbangkan kepentingan perusahaan teknologi, platform distribusi, dan para seniman.

Dari fenomena lagu-lagu AI yang meraih puluhan juta penonton di Vietnam hingga munculnya “bintang virtual” di berbagai negara, musik AI tampak memasuki fase booming. Di tengah peluang kreasi massal, industri juga dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah teknologi dapat menggantikan emosi manusia, atau seharusnya hanya menjadi alat pendukung. Dalam waktu dekat, jawabannya dinilai bukan semata memilih AI atau manusia, melainkan bagaimana menjaga ruang bagi keduanya melalui “aturan main” baru yang disepakati bersama.