BERITA TERKINI
Mengenang 25 Tahun Trinh Cong Son: Musik untuk Refleksi yang Terus Bergema di Hai Phong

Mengenang 25 Tahun Trinh Cong Son: Musik untuk Refleksi yang Terus Bergema di Hai Phong

Pada malam 1 April, Alley Cafe di Jalan Lach Tray (Kelurahan Gia Vien) menjadi ruang pertemuan bagi para pencinta musik Trinh Cong Son. Klub Gitar Amatir Hai Phong menggelar malam musik untuk memperingati 25 tahun wafatnya musisi tersebut, menghadirkan lagu-lagu yang akrab di telinga sekaligus mengundang penonton untuk merenung.

Sejumlah melodi seperti “White Summer,” “Glass Sunlight,” “A Realm to Return To,” dan “Dust” dibawakan dalam suasana intim. Lagu-lagu itu tidak hanya membangkitkan kenangan, tetapi juga membuka lapisan makna tentang kehidupan. “White Summer” menghadirkan kesedihan yang panjang tentang waktu dan ingatan, sementara “Glass Sunlight” menyiratkan kerapuhan dan kepolosan momen sehari-hari. Adapun “A Realm to Return To” dipenuhi nuansa filosofis yang memantik refleksi mengenai hidup, kematian, dan perjalanan eksistensi manusia.

Keragaman tema tersebut, bagi sebagian pendengar, membuat musik Trinh Cong Son melampaui fungsi hiburan semata dan hadir sebagai semacam “bahasa filosofis melalui musik.”

Bui Manh Cuong, musisi dari Kelurahan An Duong yang kerap mengikuti malam musik Trinh Cong Son di Hai Phong, menilai karya-karya Trinh tidak hanya untuk didengarkan. “Musik Trinh Cong Son bukan hanya untuk didengarkan, tetapi juga untuk direnungkan. Musik ini mengangkat pertanyaan tentang identitas, cinta, dan eksistensi, dan setiap pendengar akan menemukan jawaban mereka sendiri,” ujarnya. Menurutnya, kedalaman filosofis itulah yang membentuk nilai abadi musik Trinh Cong Son.

Pandangan serupa disampaikan Nguyen Thi Thu Nga, guru di Sekolah Dasar Nguyen Trai (Kelurahan Gia Vien). Ia menilai musik Trinh Cong Son tidak menuntut teknik yang rumit. Dalam penampilannya, ia memilih pendekatan sederhana dengan fokus pada emosi. “Semakin sederhana musik Trinh Cong Son, semakin mudah untuk menyentuh pendengar. Yang terpenting adalah ketulusan,” katanya. Ia juga menekankan bahwa meski banyak lagu Trinh tidak memerlukan jangkauan vokal luas atau teknik kompleks, membawakannya secara utuh tetap menuntut kedalaman perasaan.

Bagi sebagian orang, lagu-lagu Trinh Cong Son juga menjadi sandaran batin. Nguyen Thi Duyen, penyanyi amatir dari distrik Dong Hai yang masuk 30 besar Kompetisi Suara Bolero Emas Vietnam musim ke-11 tahun 2025, mengatakan musik Trinh memiliki arti sebagai dukungan spiritual. Ia menyebut lagu seperti “A Realm to Return To” atau “Let the Wind Carry It Away” membantunya menemukan keseimbangan di masa sulit. “Mendengarkan musik Trinh Cong Son, saya merasa dipahami dan mendapatkan kekuatan untuk terus maju,” kata Duyen.

Di luar panggung kecil, kecintaan pada musik Trinh Cong Son juga hadir dalam keseharian warga Hai Phong. Di Kafe Nang (Kelurahan Thanh Dong), misalnya, lagu-lagu Trinh dipilih untuk dibawakan setiap awal April sebagai cara mengenang sang musisi. Phong Pham, pelanggan tetap sekaligus penggemar lama, mengatakan ia kerap menyanyikan lagu-lagu itu saat berkumpul dengan teman. “Musik Trinh Cong Son membuat orang lebih tenang dan lebih mendengarkan satu sama lain,” ujarnya.

Jika dilihat lebih luas, nilai musik Trinh Cong Son tidak hanya terletak pada jumlah karya yang mencapai lebih dari 600 lagu, tetapi juga pada kemampuannya memantulkan isu-isu kemanusiaan yang universal. Cinta dalam lagu-lagunya tidak digambarkan riuh atau meledak-ledak, melainkan kerap hadir dalam bentuk kesedihan, perpisahan, dan nostalgia. Manusia tampak kecil di hadapan arus waktu, namun tetap berupaya memahami dan berbelas kasih.

Sejumlah lagu menampilkan corak filosofis yang kuat melalui citra simbolis. “Dust” membangkitkan gagasan tentang siklus kehidupan, “A Realm to Return To” mengangkat pertanyaan mengenai makna eksistensi, sementara “Let the Wind Carry It Away” menyampaikan pesan tentang hidup yang indah dan memberi. Lirik yang tampak sederhana itu, bagi banyak pendengar, menyimpan pemikiran mendalam yang kerap baru terasa seiring pengalaman hidup bertambah.

Dalam konteks kekinian, teknologi turut mendekatkan musik Trinh Cong Son kepada audiens muda lewat aransemen baru dan platform digital. Namun, ada pula pandangan bahwa kebiasaan menikmati musik secara cepat dan dangkal membuat sebagian pendengar muda kesulitan memberi waktu untuk menghayati kedalaman karya-karya Trinh. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian nilai musik tersebut.

Karena itu, sejumlah pihak menilai penting untuk menjaga ruang-ruang pertunjukan yang intim, tempat musik dibawakan secara sederhana dan tulus. Di saat yang sama, perpaduan tradisi dan modernitas dalam aransemen serta pertunjukan juga dianggap diperlukan, selama semangat inti karya-karya Trinh Cong Son tetap terjaga.