SAMARINDA — Di tengah kesibukan dunia akademik, mahasiswa Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul) bernama Daini Fahreza memilih menekuni jalur musik jazz di industri musik Kota Samarinda. Ia menyebut jazz bukan sekadar genre, melainkan medium bercerita yang memberinya ruang untuk mengekspresikan emosi secara jujur.
Ketertarikan Daini pada jazz sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku SMA. Awalnya ia hanya mendengarkan, lalu berlanjut menjadi proses belajar dan eksplorasi hingga akhirnya menulis karya sendiri. “Jazz itu bukan cuma musik, tapi cara bercerita. Ada ruang untuk jujur di dalamnya,” ujar Daini, Senin (4/5/2026).
Keseriusannya ia wujudkan lewat sejumlah lagu ciptaan yang telah tersedia di platform digital seperti Spotify. Di antaranya berjudul Fantasi Mimpi, Cinta Di Malam Hari, dan Oh Sayang!. Ketiganya mengangkat warna emosi yang berbeda, namun tetap bertumpu pada tema perasaan manusia.
Lagu Fantasi Mimpi bercerita tentang dua orang yang saling memiliki rasa, tetapi tidak bisa bersama karena masing-masing telah memiliki pasangan. Daini menggambarkan konflik batin antara keinginan dan kenyataan. “Kadang yang paling sakit itu bukan kehilangan, tapi tahu bahwa kita tidak bisa memiliki sejak awal,” katanya.
Sementara Cinta Di Malam Hari menampilkan suasana yang lebih sunyi dan reflektif, tentang seseorang yang menyimpan perasaan dalam diam. “Tidak semua perasaan harus disampaikan. Ada yang cukup dirasakan, lalu dilepas pelan-pelan,” ujar Daini.
Berbeda dari dua lagu sebelumnya, Oh Sayang! hadir dengan nuansa lebih ringan dan hangat, mengisahkan seseorang yang sedang jatuh cinta dengan rasa bahagia dan harapan. “Jatuh cinta itu sederhana, tapi efeknya bisa mengubah cara kita melihat dunia,” ungkapnya.
Di sela aktivitas sebagai mahasiswa, Daini berupaya menjaga keseimbangan antara pendidikan dan minatnya di musik. Menurutnya, keduanya tidak harus saling bertentangan dan justru dapat saling melengkapi. Ia juga menilai latar belakang psikologi memengaruhi cara ia menulis lagu, terutama dalam memahami emosi dan dinamika perasaan manusia. “Psikologi membantu saya memahami cerita di balik perasaan. Musik jadi cara saya menyampaikannya,” jelasnya.
Daini menilai perjalanan bermusiknya masih panjang. Namun, ia ingin terus mengekspresikan cerita dan perasaan melalui jazz. “Musik tidak butuh tempat besar untuk lahir, cukup keberanian untuk jujur dan saya akan terus bermain, selama hati ini masih punya cerita,” tutupnya.