FIFA memperkenalkan lagu berjudul Lighter sebagai lagu kebangsaan Piala Dunia 2026. Menurut FIFA, lagu ini diciptakan untuk mewujudkan semangat “koneksi, kegembiraan, dan ketekunan” serta menyalurkan energi positif kepada penggemar di seluruh dunia. Lighter juga disebut menjadi pembuka dari rangkaian produk musik yang akan menyertai turnamen tersebut.
Meski demikian, respons awal publik dan sejumlah media menunjukkan penerimaan yang tidak sepenuhnya positif. Sejumlah penggemar menilai lagu tersebut belum memenuhi ekspektasi sebagai lagu untuk ajang olahraga global sebesar Piala Dunia.
Beberapa situs berita olahraga dan hiburan, termasuk SportBible dan Yahoo Sports, mencatat komentar penggemar yang menyebut Lighter “kurang berenergi”, “kurang intensitas”, dan “kurang semangat” dibanding harapan terhadap lagu resmi Piala Dunia. Kritik ini antara lain menyoroti kesan bahwa lagu tersebut tidak memiliki ledakan emosi atau klimaks yang biasanya identik dengan lagu-lagu pengiring pertandingan besar.
Berbeda dari sejumlah lagu Piala Dunia sebelumnya yang dinilai meninggalkan kesan kuat, Lighter disusun dengan tempo sedang dan memadukan unsur pop, country, serta musik Latin. Pilihan gaya ini membuat sebagian pendengar menilai lagu tersebut kurang menghadirkan energi eksplosif yang kerap diharapkan untuk membangun atmosfer stadion dan euforia pertandingan.
Di media sosial, sebagian opini turut membandingkan Lighter dengan lagu-lagu Piala Dunia terdahulu. Mereka berpendapat lagu ini kurang memiliki elemen “lagu kebangsaan”, yakni bagian yang mudah diikuti untuk bernyanyi bersama dan memicu efek keramaian.
Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menilai eksperimen musikal dapat dipahami mengingat skala dan pasar Piala Dunia yang terus berkembang. Menggabungkan berbagai elemen musik, alih-alih mengikuti formula “klimaks” dan “mudah dinyanyikan” yang sudah dikenal, dipandang sebagai upaya menyegarkan citra musik turnamen 2026. Namun, pendekatan tersebut juga berpotensi menyulitkan lagu untuk memenuhi selera penonton yang terbiasa dengan lagu-lagu ikonik dari masa lalu.
Untuk saat ini, Lighter disebut baru menjadi salah satu lagu pertama dalam rangkaian musik Piala Dunia 2026. Pada turnamen-turnamen sebelumnya, sejumlah lagu resmi baru benar-benar populer ketika turnamen semakin dekat atau saat sudah berlangsung.
Karena itu, sejumlah pengamat menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak Lighter secara menyeluruh. Namun, perdebatan yang muncul dinilai mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap produk musik yang terkait dengan acara global seperti Piala Dunia, terutama ketika audiens semakin beragam dan ekspektasi publik kian tinggi.

