Sejumlah klub musik tradisional menghadapi tantangan berat dalam menjaga keberlanjutan warisan, terutama karena minimnya regenerasi musisi. Di tengah upaya pelestarian, para pengrajin dan peneliti menilai ketersediaan pemain alat musik menjadi persoalan mendesak yang menentukan hidup-matinya pertunjukan.
Seniman folk Nguyen Thanh Thieu dari Klub Lagu Rakyat Komune Sen Ngu menyebut klubnya saat ini hanya memiliki tiga musisi yang memainkan kecapi bulan, biola dua senar, dan zither. Dari jumlah tersebut, dua orang berusia di atas 60 tahun. Menyadari peran penting musisi dalam menjaga “jiwa” alat musik tradisional, klub berupaya mengajar dan membina anak muda yang berminat, bahkan memberikan dukungan finansial sebagian untuk pembelian alat musik.
Namun, setelah menguasai dasar-dasar musik, banyak anak muda harus melanjutkan pendidikan atau menghadapi tuntutan mencari nafkah. Kondisi ini membuat aktivitas memainkan alat musik tradisional masih didominasi para tetua. Meski begitu, Nguyen Thanh Thieu menyampaikan kabar baik: ia kini mengajar dua murid, salah satunya putranya, dengan harapan pengetahuan memainkan alat musik tradisional tidak hilang di masa depan.
Dalam perkembangan organisasi, setelah penggabungan, Klub Lagu Rakyat Ngu Thuy berganti nama menjadi Klub Lagu Rakyat Sen Ngu dan menerima anggota baru dari bekas komune Hung Thuy dan Sen Thuy. Nguyen Thanh Thieu berharap penambahan sumber daya manusia, disertai dukungan aktif pemerintah daerah serta instansi terkait, dapat membantu mengatasi kesulitan pelatihan musisi dan memperkuat tim pemain agar warisan lokal tidak memudar atau kehilangan identitas.
Kekhawatiran serupa disampaikan pengrajin terkemuka Ho Xuan The dari Klub Ca Tru Dong Duong (komune Quang Trach). Setelah bertahun-tahun memainkan dan day—alat musik gesek Vietnam—serta mengikuti berbagai pelatihan di tingkat provinsi, ia masih cemas soal pembinaan penerus musisi ca tru. Saat ini, selain putranya, Ho Xuan Thanh (lahir 1966), ia hanya melatih beberapa musisi junior yang berminat pada and day dan ca tru. Jumlah yang terbatas ini dinilai menghambat proses pewarisan ke generasi berikutnya.
Ho Xuan The menegaskan bahwa dalam pertunjukan ca tru, musisi merupakan unsur yang tak tergantikan dan berperan penting dalam keberhasilan sebuah karya. Karena itu, menurutnya, pelatihan musisi sama pentingnya dengan pelatihan penyanyi. Ia berharap ada solusi efektif untuk mengatasi hambatan regenerasi tersebut.
Peneliti Dang Thi Kim Lien, Kepala Cabang Provinsi Quang Tri dari Asosiasi Musik Tradisional Vietnam, menilai “kekurangan” musisi menjadi masalah utama di banyak klub musik tradisional di provinsi itu. Ia menyebut, setelah penggabungan, salah satu tugas mendesak adalah menangani persoalan ini secara menyeluruh, rasional, dan tepat, sehingga kesulitan dapat diubah menjadi peluang inovasi yang efektif.
Di sisi lain, Departemen Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata disebut memberi perhatian pada pelatihan serta peningkatan keterampilan musisi dalam berbagai bentuk musik rakyat tradisional Vietnam. Pada Mei 2025, Museum Provinsi menyelenggarakan kursus pelatihan keterampilan pertunjukan, memainkan kecapi, dan menyanyikan ca tru di kota Dong Le, distrik Minh Hoa (dahulu). Kegiatan ini diikuti para penyanyi perempuan dan lebih dari 10 pemain kecapi laki-laki dari distrik Quang Trach, Minh Hoa, Tuyen Hoa, serta kota Ba Don (dahulu), dengan pengajar dari kalangan pengrajin teladan.
Pelatihan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman, memperkaya pengetahuan dan keterampilan praktik ca tru, serta memperkuat hubungan antarindividu dan klub pelestari warisan. Kegiatan itu juga dinilai membantu meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan budaya tentang pelestarian, pewarisan, dan promosi nilai budaya tradisional, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk menyerap nilai khas warisan budaya takbenda ca tru.
Meski demikian, diakui bahwa pelatihan musisi di bidang musik rakyat Vietnam masih terbatas dan belum memadai untuk memenuhi kebutuhan praktis masyarakat setempat. Pembinaan musisi masih banyak bergantung pada praktik di klub-klub musik rakyat, yang pada gilirannya ditentukan oleh ketersediaan dana, kompetensi profesional, antusiasme, dan semangat para seniman yang ada.
Dang Thi Kim Lien menekankan perlunya langkah berkelanjutan. Menurutnya, setelah penggabungan perlu dilakukan survei statistik yang akurat tentang kondisi terkini musisi di berbagai bentuk budaya rakyat Vietnam di provinsi tersebut, dengan perhatian khusus pada warisan budaya takbenda tingkat nasional atau yang diakui UNESCO. Setelah peta situasi diperoleh secara komprehensif, ia mendorong penerapan solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk membangun tim musisi, termasuk pelatihan yang teratur dan efektif serta kebijakan dukungan tepat waktu dari tingkat provinsi hingga akar rumput agar generasi mendatang memiliki motivasi untuk menekuni bidang ini dalam jangka panjang.