Program konser “Wolfgang Amadeus Mozart 270” menampilkan rangkaian karya penting Wolfgang Amadeus Mozart yang merepresentasikan tiga ranah utama dalam warisan musiknya: opera, konserto, dan simfoni. Melalui pilihan repertoar tersebut, konser ini menegaskan pengaruh Mozart yang luas dalam tradisi musik klasik, sekaligus menghadirkan mahakarya yang terus bertahan melampaui zaman.
Pertunjukan dibuka dengan overture dari opera Don Giovanni, yang dikenal sebagai salah satu pembuka opera Mozart paling dramatis. Setelah itu, konser berlanjut dengan Piano Concerto No. 27 dalam B-flat mayor, K. 595—konserto terakhir yang ditulis Mozart. Karya ini digambarkan memiliki nuansa kesedihan yang mendalam, gaya yang sederhana, serta kedalaman emosi batin, dengan tiga bagian—Allegro, Larghetto, Allegro—yang membangun dialog lembut antara piano dan orkestra.
Bagian penutup konser adalah Symphony No. 41 dalam C mayor, yang dikenal dengan sebutan Jupiter. Simfoni besar terakhir Mozart ini disebut memancarkan keanggunan dan kemurnian, serta kerap dipandang sebagai puncak seni simfoni klasik karena pengembangan tema dan struktur kontrapung yang kompleks. Karya tersebut juga dikenal luas sebagai salah satu simfoni teragung sepanjang masa.
Konser ini menampilkan Konduktor—Seniman Berprestasi Tran Vuong Thach, Orkestra Simfoni HBSO, serta pianis Luu Duc Anh yang disebut sebagai salah satu talenta muda menonjol dalam musik Vietnam.
Luu Duc Anh lahir pada 1993 dan mulai belajar piano sejak usia dini di bawah bimbingan ayahnya, Profesor Madya, Doktor, sekaligus Seniman Berprestasi Luu Quang Minh—yang dikenal sebagai salah satu pendidik akordeon dan musik jazz terkemuka di Vietnam. Ia telah tampil dalam berbagai format, termasuk resital solo, konser, ansambel, dan sebagai pengiring.
Pendidikannya ditempuh di Akademi Musik Nasional Vietnam, Konservatorium Kerajaan Liège di Belgia, serta Akademi Musik Malmö di Swedia. Pada 2025, Luu Duc Anh bersama rekan-rekannya menyelenggarakan Kompetisi Piano Internasional Vietnam 2025 (VIPCF 2025), dengan harapan dapat memanfaatkan pengalamannya untuk menginspirasi generasi pianis muda berikutnya.

