Mataram — Komunitas Akarpohon Mataram merilis buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi karya Iin Farliani dalam program bertajuk Rilis! di Warjack, Taman Budaya NTB, Minggu (3/7). Program ini menjadi ruang bagi penulis untuk memperkenalkan buku baru yang diterbitkan.
Agenda peluncuran dibuka dengan pembacaan puisi oleh mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Mataram, Wulan Eryana Sain, yang membacakan puisi berjudul Aku Tak Datang Mengetuk Pintu. Setelah itu, pegiat teater Rizky Desima Ardira tampil membacakan puisi Memerahkan Bibir.
Proses Seleksi dari 200 Puisi
Iin Farliani mengungkapkan, pada awalnya ia tidak percaya diri untuk menerbitkan buku puisi karena karya-karyanya yang ditulis sejak 2013 hingga 2020 tidak disusun secara tematik. Ia sempat beranggapan puisi yang layak dibukukan adalah puisi tematik.
Namun, setelah naskah diserahkan kepada penyunting, ia menemukan ada benang merah yang menghubungkan karya-karyanya. “Saya menyerahkan 200 puisi dan penyunting memilih untuk membukukan 50 puisi yang dinilai memiliki satu benang merah,” ujar Iin.
Iin juga menyampaikan bahwa menurut cerita penyunting, kumpulan puisinya melewati tiga kali proses penyaringan sebelum menjadi buku. Puisi-puisi tersebut dinilai cukup sulit karena memiliki banyak subjek. Setelah proses penyuntingan selama satu bulan, Iin dan penyunting bersepakat menerbitkan Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi.
Gambaran Tumbuh Kembang Perempuan
Iin menerbitkan buku itu untuk mengutuhkan periode kepenulisan yang telah ia mulai sejak 2013. Menurutnya, setiap periode kepenulisan memiliki tingkat kematangan masing-masing. Ia menilai, daripada puisi yang telah ditulis menumpuk, lebih baik dihimpun menjadi satu buku yang utuh.
Secara garis besar, buku tersebut menggambarkan tumbuh kembang seorang perempuan serta cara ia memahami dunia sekitar, mencakup ruang privat dan ruang sosial. Iin berharap buku itu menemui pembaca, terutama mereka yang ingin melihat dunia dari sudut pandang penyair perempuan.
Ia juga menyinggung anggapan bahwa perempuan kerap dinilai hanya mampu membahas hal-hal domestik. Menurutnya, kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi justru menggambarkan hal-hal yang bersifat universal.
Pembacaan Puisi dari Sejumlah Pegiat
Acara rilis turut diisi pembacaan puisi oleh dokter sekaligus penyair Liya Maulidianti yang membawakan puisi Daun Mangga. Sementara itu, peneliti sekaligus pegiat literasi Dedy Ahmad Hermansyah membacakan puisi Kau Irama, Aku Kata yang sekaligus menutup rangkaian acara.
Rilis!, Perayaan Buku, dan Tur Buku
Manajer Program Komunitas Akarpohon Mataram, Ilda Karwayu, menjelaskan program Rilis! mengadaptasi konsep penggarapan musik yang dinilai rapi dan efektif dalam menyebarkan karya kepada para apresian. Menurutnya, hal tersebut muncul dari refleksi komunitas atas keterbatasan penyebaran karya.
Ilda mengatakan, Rilis!, Perayaan Buku, serta Tur Buku merupakan rangkaian program yang diinisiasi untuk memperluas distribusi buku yang telah terbit. Ia menyebutkan, ketika Perayaan Buku digelar, pembaca dapat berdiskusi langsung dengan penulis dan pembahasan karena telah datang ke acara Rilis!.
Setelah Rilis! dan Perayaan Buku, Komunitas Akarpohon Mataram berencana melakukan Tur Buku di berbagai kabupaten di Pulau Lombok. Langkah ini diharapkan dapat menjawab fenomena buku-buku yang dihasilkan penulis NTB yang jarang terbaca di daerah sendiri.
Ilda menambahkan, penyelenggaraan Rilis! menyasar apresian secara umum, namun secara politis juga diarahkan pada massa para penulis yang bukunya sedang dirilis. Lokasi kegiatan disebut menyesuaikan dengan lokasi massa para penulis dan berbagai tempat umum, dengan tujuan agar komunitas bersifat inklusif dan tidak terafiliasi pada satu tempat saja.
Buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi dapat dipesan di penerbit Basabasi dan Kedai Buku Klandestin.

