Dunia musik Indonesia berduka. Musisi senior sekaligus komponis James F. Sundah meninggal dunia di New York, Amerika Serikat, pada Kamis, 7 Mei 2026, pukul 11.28 waktu setempat, dalam usia 70 tahun.
James dikenal luas lewat karya-karya seperti “Lilin-Lilin Kecil”, “September Ceria”, hingga “Ironi”. Kiprahnya tidak hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga produser, mentor bagi banyak musisi, serta pejuang hak cipta yang ikut membentuk arah industri musik Indonesia sejak era 1970-an.
Pengamat musik Indonesia Wendi Putranto mengenang James sebagai sosok hangat yang mencintai musik dan kemanusiaan. “Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi dunia musik Indonesia,” ujar Wendi dalam keterangan kepada kantor berita ANTARA di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026. Menurut Wendi, dedikasi James membuatnya dihormati lintas generasi, dan karya-karyanya telah menjadi “soundtrack kehidupan” masyarakat Indonesia selama puluhan tahun.
Nama James mulai dikenal luas setelah lagu “Lilin-Lilin Kecil” memenangi Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1977. Dalam wawancara bersama penyiar RRI Jakarta, Yudi Ismail, James pernah mengungkapkan lagu itu lahir dari kegelisahannya melihat manusia membutuhkan harapan kecil di tengah situasi gelap. “Saya melihat kalau lilin satu saja tidak bisa menjadi arti apa-apa, tapi kalau lilin-lilin, banyak orang bersama-sama saling solidaritas, dunia yang tadinya sekusut apa pun akan jadi lebih baik,” ucapnya kala itu.
Lagu tersebut kemudian dipopulerkan oleh Chrisye dan menjadi salah satu karya ikonik dalam sejarah musik Indonesia. Majalah Rolling Stone Indonesia menempatkan “Lilin-Lilin Kecil” dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa pada 2009. Dalam wawancara yang sama, James mengaku tidak menyangka karya pertamanya justru menjadi tonggak kariernya. Ia menyebut saat itu masih bersekolah di SMA 3 Jakarta, dengan kehidupan bermusik yang dinilainya kondusif.
Karier James berkembang melampaui peran sebagai pencipta lagu. Ia ikut membangun warna musik sejumlah penyanyi besar Indonesia, antara lain Vina Panduwinata, Januari Christy, Ruth Sahanaya, hingga Krisdayanti. Salah satu karya pentingnya bersama Vina, “September Ceria”, disebut lahir bertepatan dengan hadirnya Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia pada 1982. “Saya mulai paham bahwa hak cipta sangat berkaitan erat dengan karya-karya cipta,” kata James.
Kesadaran tersebut mendorongnya aktif memperjuangkan perlindungan karya musisi Indonesia. James kemudian menjadi bagian dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional bersama sejumlah musisi lain untuk mengawal distribusi royalti dan perlindungan hak ekonomi pencipta lagu. Perjuangannya juga berkaitan dengan kegelisahan melihat Indonesia pernah dicap sebagai salah satu negara pembajak musik terbesar di dunia pada era 1980-an.
Dalam konteks itu, James turut menjadi penggerak proyek album “Suara Persaudaraan” yang melibatkan puluhan musisi Indonesia sebagai simbol solidaritas industri musik nasional. “Musik itu ternyata punya kekuatan untuk menolong,” ujarnya dalam wawancara bersama RRI. Ia menilai kebersamaan para musisi saat itu menjadi jawaban moral atas tuduhan pembajakan yang dialamatkan kepada Indonesia.
Di luar karya-karya nasional, James juga tercatat ikut menulis lagu internasional “When You Came Into My Life” bersama personel grup musik rock Jerman Scorpions. Lagu tersebut masuk dalam album “Pure Instinct” dan memperlihatkan kiprahnya yang melintasi batas industri musik Indonesia.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, James tetap aktif berkarya meski berjuang melawan kanker paru-paru sejak 2024. Ia merilis lagu terakhir berjudul “Seribu Tahun Cahaya” pada Oktober 2025 yang dinyanyikan Claudia Emmanuela Santoso. Sebulan setelah perilisan lagu tersebut, James menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dalam ajang Anugerah Musik Indonesia Awards 2025.
Keluarga dijadwalkan menggelar ibadah penghiburan pada Minggu, 10 Mei 2026, di Schwartz Brothers Memorial Chapel, New York. Prosesi pemakaman akan dilanjutkan pada Senin, 11 Mei 2026, di St. John Cemetery, Amerika Serikat.