JAKARTA — Industri asuransi jiwa menyatakan optimistis dapat kembali mencatat pertumbuhan positif pada kuartal pertama 2009, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membeli produk asuransi di tengah krisis keuangan global.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F Pietruschka mengatakan, industri asuransi jiwa berpeluang kembali tumbuh setelah pertumbuhan pada akhir 2008 dinilai sangat rendah. Pernyataan itu disampaikan Evelina di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurut Evelina, meningkatnya minat masyarakat terhadap produk asuransi tidak terlepas dari kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu. Ia menilai situasi krisis justru mendorong masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri melalui asuransi.
Evelina juga menyinggung pengalaman saat krisis moneter melanda negara-negara Asia, termasuk Indonesia, yang kala itu turut membawa dampak positif bagi industri asuransi di dalam negeri. Ia menyebutkan, pihaknya telah memprediksi perlambatan pertumbuhan sepanjang 2008 hanya bersifat sementara. Data pertumbuhan tersebut, kata dia, masih dikumpulkan dan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Optimisme industri juga didukung membaiknya kondisi pasar modal domestik, yang tercermin dari kenaikan harga saham lokal. Namun, Evelina menegaskan bahwa faktor utama tetap pada meningkatnya kesadaran masyarakat membeli produk asuransi sebagai bentuk proteksi.
Sementara itu, Lembaga Riset Media Asuransi mencatat premi seluruh asuransi pada 2008 masih tumbuh tipis di tengah tekanan pada industri jasa keuangan global akibat krisis yang bermula dari Amerika Serikat. Premi asuransi jiwa pada 2008 tumbuh 4,5 persen dibanding 2007, premi reasuransi tumbuh 26,5 persen, dan premi asuransi umum tumbuh 21,9 persen.
Dalam periode tersebut, industri asuransi disebut memiliki total aset sekitar Rp 135 triliun, dengan premi yang dihimpun dari masyarakat sekitar Rp 110 triliun.

