Kadri merilis single terbaru berjudul “Sabana Malu Sabana Rindu”. Musisi yang kerap dijuluki “singing lawyer” ini kembali hadir di industri musik Indonesia lewat lagu karya Agung Triyana, dengan nuansa city pop retro yang dipadukan dengan lirik berbahasa Minang.
Sebelumnya, Kadri sempat merilis dua single, yakni “Karmila” (Farid Hardja, 2024) dan “Bareh Solok” (Nuskan Syarif, 2025). Melalui “Sabana Malu Sabana Rindu”, ia menawarkan pendekatan yang dikemas modern dan ditujukan untuk menarik perhatian generasi Z.
“Sabana Malu Sabana Rindu” mengangkat tema konflik batin yang dekat dengan banyak orang, seperti kerinduan yang tak tersampaikan, cinta yang belum diungkap, rasa malu yang menahan, serta jarak yang memisahkan. Emosi tersebut disampaikan lewat lirik Minang yang puitis dan sarat makna, menghadirkan warna berbeda di lanskap musik pop Indonesia.
Dari sisi musikalitas, lagu ini dibalut nuansa city pop era 1980-an yang ringan dan groovy, dengan sentuhan nostalgia. Dominasi synth klasik, ritme yang hangat, serta produksi yang bersih membangun atmosfer retro yang tetap relevan bagi pendengar masa kini, tanpa mengarah menjadi lagu daerah konvensional.
“Sebagai penyanyi, saya merasa lagu ini punya kedalaman emosi yang kuat dan sangat menantang menyanyikannya. Untuk itu saya coba menahan ego dan emosi tidak meledak-ledak saat menyanyikan seperti biasa nya saya menyanyi rock,” ujar Kadri dalam rilis.
Pria bernama lengkap Mohamad Kadri Sutan Bandaro itu menambahkan, “Kali ini cukup dengan lirih, karena bahasa Minang yang puitis memberi rasa yang sangat jujur dan personal dalam menyampaikan perasaan. Harapannya, Gen-Z bisa melihat bahwa bahasa daerah juga bisa terasa keren dan relate dengan kehidupan mereka sekarang.”
Melalui single ini, Kadri yang sempat dikenal sebagai penyanyi rock di era 1980-an bersama Makara Band juga disebut ingin memperluas penggunaan bahasa Minangkabau yang puitis, sekaligus menampilkan keindahan alam dan budaya Minangkabau dalam visual modern yang mudah diterima. Lagu tersebut juga disebut keluar dari pakem lagu Minang tradisional yang biasanya bernuansa sendu, sekaligus menunjukkan bahwa pop berbahasa daerah dapat bersaing di kancah yang lebih luas.

