Musisi senior Kadri merilis single terbaru berjudul Sabana Malu Sabana Rindu, karya cipta Agung Triyana. Lagu ini memadukan nuansa city pop retro era 1980-an dengan lirik berbahasa Minang yang dikemas modern, dengan sasaran pendengar generasi Z.
Lewat Sabana Malu Sabana Rindu, Kadri mengangkat konflik batin yang dekat dengan keseharian banyak orang: rindu yang terpendam, cinta yang belum terucap, rasa malu yang menghalangi, serta jarak yang memisahkan. Emosi tersebut disampaikan melalui lirik Minang yang puitis, memberi warna berbeda di tengah lanskap musik pop saat ini.
Dari sisi musikalitas, lagu ini dibalut gaya city pop yang ringan dan groovy dengan nuansa nostalgik. Aransemen menonjolkan penggunaan synth klasik, ritme hangat, dan produksi yang bersih untuk menghadirkan atmosfer retro yang tetap relevan bagi selera pendengar masa kini.
Kadri yang dikenal sebagai penyanyi rock era 1980-an menyebut lagu ini menuntut pendekatan vokal yang berbeda dari kebiasaannya. Ia mengatakan harus menahan ego dan emosi agar tidak meledak-ledak seperti saat membawakan lagu rock, dan memilih menyanyikannya lebih lirih karena karakter bahasa Minang yang puitis.
Kadri juga berharap pendengar muda dapat melihat bahasa daerah sebagai sesuatu yang tetap terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Sementara itu, Agung Triyana menyampaikan keinginannya membuktikan bahwa lagu berbahasa daerah dapat terasa universal. Dengan notasi bergaya city pop yang mudah dinikmati, ia berharap lagu ini bisa menembus batas lokal dan diterima hingga pendengar di Jepang.
Dalam proses produksi, Kadri menggandeng Jonathan Mono sebagai produser. Jonathan menyebut fokusnya adalah menciptakan sound yang hangat, catchy, dan enak didengar tanpa menghilangkan karakter budaya di dalamnya. Ia menilai upaya ini sebagai langkah membawa bahasa daerah ke level yang lebih luas agar tetap modern, relevan, dan memiliki daya tarik global.
Video musik Sabana Malu Sabana Rindu digarap Dvh. Bale dengan pendekatan sinematik. Visualnya menampilkan Kadri melakukan perjalanan menggunakan vespa kuning, melintasi Kelok Sembilan, Harau, hingga Bukittinggi. Dvh. Bale menggambarkan bentang alam Minangkabau sebagai metafora liku-liku rindu yang harus dilalui, seolah menunggu kabar dari pujaan hati.
Untuk artwork, Kadri menggandeng Gema Ramadhan, fotografer penggemar vespa vintage yang kerap melakukan road trip di alam Sumatera Barat. Melalui karya ini, Kadri menegaskan upayanya tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga memperluas penggunaan bahasa Minangkabau yang puitis, dengan harapan lagu pop berbahasa daerah dapat bersaing di panggung yang lebih luas.

