BERITA TERKINI
Kada, Maestro Kacaping Mandar Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022

Kada, Maestro Kacaping Mandar Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022

Sebanyak 29 pelaku seni dan budaya menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) dan 200 karya budaya menerima Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dalam Malam Apresiasi Kebudayaan Indonesia 2022 di Jakarta, Jumat (9/12/2022).

Dari 29 penerima AKI, terdapat lima penerima Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden RI dan 24 penerima penghargaan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). AKI 2022 dibagi dalam tujuh kategori, yakni Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden RI, Pelopor dan Pembaru, Maestro Seni Tradisi, Pelestari, Anak dan Remaja, Lembaga, serta Media.

Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menerima 398 usulan calon penerima yang disampaikan melalui pemerintah daerah dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Salah satu penerima penghargaan kategori Maestro Seni Tradisi adalah Kada atau Aba Fatimah. Pada usia 79 tahun, ia telah mendedikasikan hidupnya selama tujuh dekade untuk seni Kacaping Mandar, sebuah seni pertunjukan berbentuk sastra lisan yang merupakan tradisi Suku Mandar di Sulawesi Barat.

Kada dikenal luas sebagai pakkacaping, pemain Kacaping Tommuane dari Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Lahir pada 1 Juli 1943, ia mulai menggemari kacaping sejak usia 13 tahun dan belajar secara otodidak. Ketertarikannya disebut berangkat dari lingkungan keluarga, karena ayahnya pernah menjadi pemain kacaping di Istana Kerajaan Balanipa.

Ketika masih duduk di Sekolah Rakyat, bakat bermusik Kada mulai terlihat. Ia kerap ikut memainkan kacaping setiap ada pertunjukan di kampungnya, sebelum para pakkacaping memulai pementasan.

Perjalanan keseniannya memasuki fase baru pada 1967 saat ia tampil di Tinambung sebagai pakkacaping profesional. Sejak itu, ia kerap diundang dari kampung ke kampung untuk menghibur masyarakat lewat musik kacaping yang dikuasainya.

Kiprah Kada semakin meluas ketika beberapa kali menjadi duta Kabupaten Polewali Mandar dalam acara kesenian tradisi tingkat regional di Sulawesi Selatan pada 2003. Namanya kian dikenal setelah menjadi delegasi Sulawesi Barat di tingkat nasional dan turut menjemput tamu kehormatan yang berkunjung setelah Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi baru dan terpisah dari Sulawesi Selatan pada 2004.

Dalam catatan perjalanannya sebagai seniman tradisi, Kada telah tampil di banyak wilayah, termasuk hampir di seluruh pelosok desa di Sulawesi Barat, Donggala di Sulawesi Tengah, hingga sejumlah daerah di Kalimantan seperti Sangata, Bontang, Muara Bada, Samarinda, Balikpapan, Panajam, Grogot, Tarakan, Nunukan, Batu Licin, dan Karrasing. Ia juga pernah tampil di Solo serta Jakarta sebagai duta pakkacaping Mandar. Selain pentas, Kada juga pernah merekam alunan kacaping Mandar beserta syair-syair yang dilantunkannya di studio rekaman.

Tak hanya tampil di panggung, Kada dikenal multitalenta karena juga membuat alat musik kacaping sendiri. Ia menggunakan kayu utuh dari pohon nangka atau kayu cendana yang dinilai memiliki kualitas baik serta warna merah alami. Disebutkan, ia membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menghasilkan satu kacaping Mandar.

Kacaping Mandar lazim hadir dalam berbagai perhelatan penting, seperti perkawinan, khitanan, dan acara adat lainnya. Instrumen yang digunakan adalah kacaping (kecapi) yang bentuknya menyerupai gitar, namun lebih panjang dan ramping serta memiliki dua senar. Saat memainkannya, pakkacaping melantunkan syair yang tercipta secara spontan menyesuaikan suasana acara. Syair-syair itu umumnya berisi sanjungan (tere), kisah semangat patriotisme (tolo), serta pesan-pesan religius (masaala).

Kada menekankan bahwa tidak ada persyaratan khusus bagi siapa pun yang ingin belajar menjadi pakkacaping. Menurutnya, hal terpenting adalah ketepatan dalam penyebutan syair. “Tidak ada persyaratan khusus bagi mereka yang ingin belajar menjadi seorang pakkacaping. Tidak perlu suara yang merdu. Yang penting, bagus dalam penyebutan syair. Sama seperti orang yang belajar mengaji. Walaupun suara tidak bagus, tapi tajwid bagus, itu yang baik,” kata Kada.

Di tengah tantangan modernisasi, Kada juga melakukan pembinaan kepada generasi muda yang ingin belajar kacaping Tommuane. Ia menilai hiburan modern membuat minat regenerasi pakkacaping menurun. Tantangan lain adalah kemampuan merangkai syair secara spontan, karena pakkacaping biasanya menciptakan syair sendiri sesuai situasi pertunjukan.

Dalam sambutannya pada Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mewarisi tradisi dan kebudayaan, termasuk kacaping. “Misi kebudayaan yang saat ini kita dorong, tidak hanya upaya merawat tradisi peninggalan leluhur, tetapi juga membuatnya terus adaptif dan relevan,” ujar Nadiem.

Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022 diselenggarakan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek sebagai bentuk penghargaan dan dukungan pemerintah bagi pelaku budaya yang mendedikasikan diri bagi kemajuan kebudayaan.