Penyanyi pendatang baru Ibnu Wildan Arsalan bersiap memperkenalkan warna musiknya ke industri musik Indonesia melalui album perdana bertajuk Perayaan Patah Hati. Album ini menjadi langkah Wildan untuk keluar dari rutinitas tampil reguler di kafe dan mulai menegaskan identitasnya sebagai musisi dengan karya orisinal.
Selama ini, Wildan dikenal aktif membawakan berbagai lagu populer di sejumlah tempat hiburan. Namun ia menilai sudah saatnya beralih dari sekadar menyanyikan karya orang lain menuju karya yang lebih personal dan memiliki nilai artistik lebih kuat.
Wildan mengatakan keputusan tersebut didorong keyakinannya bahwa seorang seniman perlu memiliki karya sendiri yang dapat dikenang. Ia juga menilai tampil rutin tanpa menghasilkan lagu orisinal berisiko membuat musisi terjebak dalam zona nyaman.
“Kalau kata bapak saya, seniman itu berarti harus punya karya. Banyak teman musisi kafe yang sudah di zona nyaman, tapi menurut saya, kalau kita berpikiran kayak gitu, kita menghilangkan sisi kita sebagai seniman,” kata Wildan di Jakarta.
Langkah Wildan merilis album disambut positif oleh produser sekaligus penulis lagu Rahmat Hidayat. Keduanya kemudian membangun proyek ini dengan konsep yang menggambarkan perasaan patah hati dari berbagai sudut pandang kehidupan.
Dalam proses produksi, Wildan dan Rahmat menyiapkan 10 lagu untuk album Perayaan Patah Hati. Meski mengusung tema besar patah hati, cerita yang diangkat tidak hanya soal hubungan asmara, tetapi juga kehilangan orang terdekat dan pengalaman emosional lain yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
Wildan dan Rahmat mengakui judul Perayaan Patah Hati sudah identik dengan salah satu album milik band For Revenge yang lebih dulu dikenal luas. Namun mereka menegaskan pemilihan judul tersebut bukan bentuk meniru, melainkan karena maknanya dinilai relevan dengan konsep album Wildan.
“Kita mengambil tagline-nya. Maknanya adalah merayakan patah hati itu sendiri. Kita juga melihat judul ini dipakai di beberapa film. Kenapa menarik? Karena 10 lagu kita memang mengarah ke sana, tapi bukan cuma soal pasangan, ada juga tentang kehilangan kakak atau suami,” jelas Rahmat Hidayat.
Secara musikalitas, Wildan menjadikan pop rock sebagai dasar utama. Ia menyebut konsep yang disiapkan tidak akan monoton karena tiap lagu akan memiliki karakter berbeda, namun tetap terhubung dalam satu benang merah.
Wildan juga mengungkap pengaruh band Jepang L’Arc-en-Ciel yang dikenal menghadirkan variasi genre dalam album-albumnya. Inspirasi tersebut membuatnya berani mengeksplorasi elemen musik modern, termasuk EDM dan punk rock.
“Saya terinspirasi L'Arc-en-Ciel. Kalau mereka bikin album itu nggak melulu rock. Nanti di album Perayaan Patah Hati ada unsur EDM-nya, ada punk rock-nya juga, tapi benang merahnya tetap pop rock,” tutur Wildan.
Sebelum merilis album penuh, Wildan menyiapkan double single sebagai pengenalan awal. Dua lagu yang akan dirilis terlebih dahulu berjudul “Jangan Patahkan Lagi” dan “Palung Jiwa”.
Selain berharap albumnya diterima pendengar, Wildan juga menargetkan bisa tampil di panggung yang lebih besar. Ia ingin karya-karyanya membuka jalan untuk tampil di festival musik nasional.
“Target pertama, karya ini bisa diterima dulu. Target kedua, saya ingin tampil secara visual di festival-festival besar seperti Synchronize atau Lalala Fest,” tutupnya.

