JAKARTA — Ibnu Wildan Arsalan mengambil langkah baru dalam karier musiknya. Setelah bertahun-tahun tampil di panggung reguler dengan membawakan lagu-lagu musisi lain, ia kini bersiap debut sebagai penyanyi dengan karya orisinal.
Memasuki tahun pertamanya menapaki industri musik Indonesia, Wildan telah menyiapkan album debut berisi sepuluh trek. Sebagai pembuka, ia lebih dulu akan merilis dua single, “Jangan Patahkan Lagi” dan “Palung Jiwa”.
Melalui dua lagu tersebut, Wildan ingin menghadirkan ruang bagi pendengar yang lelah menyembunyikan perasaan, sedang belajar menerima kehilangan, atau diam-diam berupaya pulih.
Single “Jangan Patahkan Lagi” disebut lahir dari pengalaman emosional yang kerap dirasakan namun sering dipendam, seperti runtuhnya kepercayaan, harapan yang kembali dikecewakan, serta ketakutan untuk membuka hati lagi. Sementara “Palung Jiwa” bergerak lebih dalam dengan menyelami sisi paling sunyi manusia—ruang batin yang jarang tersentuh, bahkan oleh orang terdekat—ketika kata-kata tak lagi cukup dan yang tersisa hanya gema perasaan yang berulang.
Dalam penggarapan materi, Wildan dibantu Rahmat Hidayat yang bertindak sebagai produser dan turut menulis beberapa lagu untuk album yang direncanakan rilis pertengahan tahun ini. Rahmat menyebut dua single tersebut merupakan bagian dari rencana album debut Wildan yang berjudul Perayaan Patah Hati.
“Rangkaian dari dua lagu ini sebenarnya bagian dari rencana kita buat album (debut) Wildan, judul album ‘Perayaan Patah Hati’,” kata Rahmat dalam acara hearing session di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 2 April.
Bagi Wildan, keputusan masuk ke industri musik tak lepas dari keyakinan bahwa seorang seniman perlu memiliki karya yang merepresentasikan dirinya. Ia juga menegaskan tidak ingin terus berada di zona nyaman sebagai penampil yang hanya membawakan karya orang lain.
“Kalau kata bapak saya, kalau seniman itu berarti harus punya karya. Banyak dari teman-teman musisi kafe yang mungkin sudah di zona nyaman, jadi mereka ya cuma (tampil) di kafe aja, toh mereka juga digaji tiap bulan. Tapi menurut saya, kalau kita berpikiran kayak gitu, berarti kita menghilangkan sisi kita sebagai seniman,” tutur Wildan.
Rahmat menambahkan, dirinya dan tim sempat mempertimbangkan beberapa penyanyi kafe untuk didorong masuk industri musik. Namun, pilihan akhirnya jatuh kepada Wildan karena kualitas serta keinginannya untuk berkarya.
“Ada beberapa orang sebenarnya yang sempat kita lihat, dan kebanyakan adalah penyanyi, Mas Wildan ini kan memang pekerjaan sehari-harinya adalah penyanyi, tapi banyak yang kita lihat itu penyanyi yang sudah stuck di zona nyamannya itu; cover-in lagu orang,” ujar Rahmat.
Ia menyebut pihaknya kemudian menawarkan Wildan untuk memiliki karya sendiri. “Dan waktu itu kita bertanya sama Mas Wildan, ‘Tertarik enggak untuk punya karya?’ Kebetulan saya basic-nya suka menulis dan suka mengarang (lagu), akhirnya kita tawarkan ke Mas Wildan, dan kebetulan gayung bersambut,” imbuhnya.
Saat artikel ini ditulis, dua lagu awal Wildan masih dalam proses administrasi sebelum dirilis melalui platform musik digital. Melalui debutnya, Wildan berharap karya orisinalnya dapat diterima pendengar.
“Saya berharapnya bisa diterima dengan baik. Yang jelas tujuan saya sekarang, saya bisa berkarya dengan tulus, sebisa saya,” pungkas Wildan.

