Gyeongju, kota bersejarah di Korea Selatan yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Silla kuno selama hampir satu milenium, terus menegaskan posisinya sebagai metropolis budaya internasional. Kota ini juga dikenal memiliki sejumlah Situs Warisan Dunia UNESCO dan sebelumnya sukses menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).
Dalam upaya memperkuat peran sebagai kota global yang dinamis, Gyeongju aktif mempromosikan pertukaran dan kerja sama budaya dengan berbagai kota di dunia melalui program budaya internasional. Sejalan dengan semangat tersebut, Gyeongju secara resmi mengirim Grup Kesenian Pungniu Bongi untuk berpartisipasi dalam Pekan Musik Internasional Hue 2026, yang digelar dalam rangkaian Festival Hue 2026.
Pungniu Bongi disebut memiliki aspirasi untuk melestarikan sekaligus menyebarkan nilai-nilai artistik tradisional. Kelompok ini tidak hanya berupaya menjaga esensi tradisi budaya yang telah lama ada, tetapi juga mencari pendekatan baru agar musik tradisional Korea lebih hidup dalam konteks kehidupan kontemporer.
Melalui penghubung antara seniman, pengrajin, dan nilai-nilai warisan yang sebelumnya terfragmentasi, Pungniu Bongi berkontribusi membangun fondasi budaya yang mempertemukan tradisi dan modernitas. Upaya tersebut ditujukan untuk membuka pengalaman artistik yang bermakna secara budaya dan tetap mudah diakses oleh penonton masa kini.
Di Gyeongju, Pungniu Bongi telah tampil dalam sejumlah agenda, antara lain Festival Malam Warisan Budaya Gyeongju 2024, acara-acara terkait APEC 2025 di Gyeongju, pesta penyambutan Maraton Bunga Sakura Gyeongju 2025, serta program perayaan ulang tahun ke-55 hubungan kota kembar antara Nara dan Gyeongju.
Dalam Festival Hue 2026, Pungniu Bongi dijadwalkan ambil bagian dalam pertunjukan Pekan Musik Internasional Hue 2026. Kehadiran mereka diharapkan memberi kesempatan bagi penonton untuk menikmati karakter suara tradisional Korea dalam suasana pertukaran budaya internasional.
Partisipasi Pungniu Bongi dipandang bukan sekadar program artistik, melainkan juga jembatan yang menghubungkan budaya Gyeongju dan Hue. Melalui musik, kontribusi ini diharapkan turut memperkaya lanskap artistik Festival Hue 2026, tempat nilai-nilai warisan bertemu, berdialog, dan menyebar.