BERITA TERKINI
Gia Lai Siapkan Strategi Pariwisata dan Konektivitas: Penerbangan, Budaya, hingga Rencana Festival Musik Tiap Triwulan

Gia Lai Siapkan Strategi Pariwisata dan Konektivitas: Penerbangan, Budaya, hingga Rencana Festival Musik Tiap Triwulan

Provinsi Gia Lai menyiapkan strategi pengembangan pariwisata yang menekankan penguatan konektivitas penerbangan, pembenahan layanan pendukung, serta penguatan produk wisata berbasis budaya. Salah satu rencana yang disorot adalah penyelenggaraan festival musik berskala besar secara rutin setiap tiga bulan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam lokakarya “Gia Lai 2026: Mengaktifkan Poros Laut–Dataran Tinggi” yang digelar pada 27 Maret di Quy Nhon. Wakil Direktur Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam, Dao Xuan Hoach, menilai penerbangan berperan sebagai “gerbang” dan penggerak pembangunan sosial-ekonomi. Namun, menurutnya, pengembangan penerbangan saja tidak cukup untuk memaksimalkan potensi suatu destinasi.

Hoach menekankan perlunya pembangunan infrastruktur yang berjalan serentak, termasuk infrastruktur bandara dan sistem konektivitas. Ia menyebut penerbangan dapat menjadi pelopor, tetapi untuk menciptakan momentum bagi daerah, sektor ini harus terhubung dengan bidang lain, terutama pariwisata.

Sejumlah perkembangan dinilai menjadi sinyal positif. Disebutkan adanya rencana peluncuran penerbangan charter pada 2026 yang ditargetkan menjadi penerbangan reguler mulai 2027, sehingga permintaan pasar dapat dipenuhi lebih cepat. Selain itu, Undang-Undang Penerbangan Sipil yang telah diubah dan diharapkan berlaku pada 1 Juli 2026 diproyeksikan menghapus berbagai hambatan dalam investasi infrastruktur.

Dari sisi pelaku usaha, Wakil Direktur Jenderal Bamboo Airways Nguyen Huy Cuong menilai Gia Lai memiliki keunggulan konektivitas dengan bekas provinsi Binh Dinh melalui Bandara Phu Cat dan Pleiku. Ia menyebut kombinasi keduanya dapat dipandang sebagai “bandara super” dengan dua landasan pacu paralel dan independen yang meningkatkan keselamatan dan kapasitas operasional.

Cuong juga menyoroti dampak peningkatan infrastruktur transportasi yang diperkirakan dapat memangkas waktu tempuh Quy Nhon–Pleiku menjadi sekitar 1,5–2 jam. Kondisi ini dinilai membuka peluang koneksi fleksibel antara perjalanan udara domestik dan internasional, sekaligus menciptakan keunggulan kompetitif bagi kawasan Dataran Tinggi Tengah dan Pesisir Selatan Tengah.

Meski demikian, ia menilai pemanfaatan keunggulan tersebut mensyaratkan peningkatan layanan pendukung. Salah satu contoh yang disampaikan adalah perlunya pengalokasian area terpisah bagi bus wisata berukuran besar di bandara untuk mencegah kepadatan dan meningkatkan pengalaman wisatawan sejak titik kedatangan pertama.

Dalam forum yang sama, Ketua FLC Group Trinh Van Quyet mengatakan kota-kota resor dan industri penerbangan perlu “tak terpisahkan,” serta berkoordinasi erat untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Ia menambahkan, dari sudut pandang investor, hal penting adalah bagaimana mendatangkan wisatawan secepat dan senyaman mungkin, sekaligus mendorong mereka tinggal lebih lama dan meningkatkan pengeluaran di daerah.

Selain infrastruktur, sejumlah pandangan menekankan perlunya reposisi produk pariwisata Gia Lai dengan menggali kedalaman budaya lokal. Ahli penerbangan Nguyen Thien Tong menyarankan agar pengembangan infrastruktur disertai promosi nilai sejarah dan budaya, termasuk penghormatan tokoh-tokoh budaya melalui museum dan ruang pengalaman. Ia menyebut tokoh seperti Han Mac Tu dan Trinh Cong Son dapat dikembangkan menjadi produk wisata unik melalui kegiatan seperti malam musik dan malam puisi.

Tong juga menilai pariwisata perlu berorientasi kuat pada pasar internasional. Ia mencontohkan karya-karya Trinh Cong Son yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa sebagai peluang membangun produk budaya berskala global.

Sejalan dengan itu, pimpinan provinsi menyatakan pentingnya penentuan pasar sasaran. Wakil Ketua Komite Rakyat Provinsi Gia Lai Nguyen Huu Que menyampaikan bahwa provinsi tengah aktif mempromosikan daya tarik wisata bagi wisatawan Korea Selatan yang dinilai memiliki potensi besar. Menurutnya, golf merupakan salah satu dari dua aktivitas rekreasi yang digemari masyarakat Korea, sehingga pengembangan lapangan golf yang dipadukan dengan produk wisata resor dipandang sebagai arah yang tepat. Gia Lai juga disebut sedang bersiap memulai pembangunan lapangan golf lain di Pleiku untuk mengakomodasi peningkatan jumlah wisatawan.

Que menambahkan, promosi pariwisata tidak hanya bertumpu pada nilai budaya yang telah dikenal, tetapi juga dapat memperkenalkan simbol khas Dataran Tinggi Tengah seperti Pahlawan Núp atau pelukis Xu Man sebagai elemen kunci dalam penguatan daya tarik.

Dalam jangka panjang, provinsi menargetkan menjadi tuan rumah Tahun Pariwisata Nasional setelah 2026 guna mengaktifkan ekosistem pariwisata dan mengembangkan destinasi yang dinilai cukup menarik bagi wisatawan.

Wakil Sekretaris Komite Partai Provinsi sekaligus Ketua Komite Rakyat Provinsi Gia Lai Pham Anh Tuan mengatakan daerahnya sedang merancang strategi pengembangan pariwisata untuk menciptakan produk-produk unik, termasuk rencana menyelenggarakan festival musik berskala besar setiap tiga bulan. Ia juga menyebut proyek Kompleks Kebudayaan, Olahraga, Hiburan, Perdagangan, Jasa, dan Pariwisata sebagai proyek yang unik, dengan salah satu daya tariknya berupa pembangunan pusat festival musik kelas dunia yang ditujukan untuk membangun industri budaya di Gia Lai.

Menurut Tuan, ketika komponen proyek beroperasi, Gia Lai berpeluang memperoleh pengakuan yang lebih luas. Ia juga menilai implementasi proyek dapat mendorong perkembangan wilayah komune Cat Tien yang saat ini menghadapi kesulitan. Provinsi menaruh harapan besar pada proyek tersebut untuk pengembangan industri budaya di Vietnam.

Gia Lai memperkirakan pada akhir 2026 atau awal 2027 akan mampu menyelenggarakan festival musik berskala besar, dengan target membentuk ekosistem hiburan dan festival yang beragam serta berorientasi global.