BERITA TERKINI
Gelombang Konser dan Pengetatan Lip-sync, Musik Vietnam Bersiap Menuju Persaingan 2026

Gelombang Konser dan Pengetatan Lip-sync, Musik Vietnam Bersiap Menuju Persaingan 2026

Pasar musik Vietnam kian menunjukkan geliatnya lewat rangkaian konser yang ramai penonton, konsep pertunjukan yang semakin matang, hingga perbincangan soal pengetatan aturan lip-sync. Sejumlah nama mencuri perhatian dalam beberapa waktu terakhir, menandai meningkatnya tuntutan terhadap kualitas penampilan langsung menjelang persaingan yang diperkirakan makin ketat pada 2026.

Pada 11 April, konser live pertama buitruonglinh bertajuk Every Day dijadwalkan tayang perdana di Teater Hoa Binh, Kota Ho Chi Minh. Momen ini disebut sebagai tonggak penting karena buitruonglinh menjadi artis pertama dan satu-satunya dari musim ke-2 program Brother Says Hi yang menggelar konser live solo setelah acara berakhir. Tiket konser debut tersebut dilaporkan terjual habis dalam 12 menit, sekaligus menegaskan narasi penyelenggaraan konser yang disebut “bukan untuk menghasilkan uang tetapi untuk mencari penyanyi latar.”

Konser Every Day mengambil inspirasi dari siklus empat musim. Pertunjukan ini digambarkan sebagai perjalanan yang menjelaskan tonggak-tonggak penting dalam karier buitruonglinh, sekaligus membagikan dunia batin yang berubah seiring waktu. Empat musim menjadi sumber ide yang diolah dari berbagai hal di sekitar sang artis untuk membentuk warna musik yang kaya dan beragam secara emosional.

Beberapa hari sebelumnya, pada malam 4 April, konser debut RHYDER bertajuk LUMINARHY digelar di Sala Urban Area, Kota Ho Chi Minh. Ribuan penonton memadati tribun, sementara tiket disebut sudah habis bahkan sebelum pertunjukan dimulai. Konser ini juga menjadi ajang berkumpulnya sejumlah figur hiburan, mulai dari Le Duong Bao Lam, HIEUTHUHAI, Isaac, Duc Phuc, Erik, HURRYKNG, JSOL, Hung Huynh, OgeNus, hingga artis senior seperti Bui Cong Nam, Andree Right Hand, dan BigDaddy.

Dalam konser tersebut, RHYDER menjaga penampilan yang konsisten dengan bernyanyi langsung, menampilkan koreografi, serta memainkan drum di beberapa segmen. Panggung digambarkan megah dan terkoordinasi, dengan pengaturan penampilan tamu yang ringkas—umumnya satu nomor dan beberapa menit interaksi—sehingga momen spesial tercipta tanpa menggeser sorotan dari penampil utama.

Di sisi lain, konser Hoang Dung bertajuk Spinning Around di Kota Ho Chi Minh juga menuai pujian atas kualitas musik, koherensi konsep dan cerita, serta kedewasaan sang musisi. Pada hari yang sama, penampilan J-UNZIP Jun Pham turut meninggalkan kesan lewat transformasi dan kematangan dalam perjalanan musiknya. Penonton melihat Jun Pham dengan identitas yang kuat dalam pemikiran musikal, yang dinilai cukup untuk memulai babak baru dengan ciri khas personal—bukan semata sebagai anggota grup 365 atau sebagai bagian dari Brothers Who Overcame a Thousand Obstacles.

Apresiasi serupa juga hadir untuk pertunjukan langsung Phùng Khánh Linh bertajuk Amidst Ten Thousand People, yang digelar dua malam di Teater Hòa Bình. Dengan total sekitar 4.000 penonton selama dua malam, ia disebut membuktikan diri bersinar dengan cara yang tepat, tampil unik dan kuat secara musikal.

Sementara itu, Grey D kembali setelah vakum dua tahun lewat album Light - Shadow. Dalam album ini, Grey D digambarkan keluar dari citra “pangeran” lagu cinta melankolis dan menampilkan sosok seniman yang bersemangat mengeksplorasi arah baru. Musiknya disebut memancarkan emosi kuat, menghadirkan kegembiraan kebebasan, serta refleksi tentang cinta dan kehidupan. Kembalinya Grey D juga disebut hadir di saat pendengar mulai jenuh dengan tema lagu cinta yang dianggap monoton.

Di tengah meningkatnya perhatian pada kualitas musik dan pertunjukan, muncul pula sorotan pada perubahan regulasi. Departemen Kebudayaan dan Olahraga Kota Ho Chi Minh baru-baru ini mengeluarkan dokumen untuk menertibkan kegiatan seni pertunjukan, yang mewajibkan individu, organisasi, dan pelaku usaha mematuhi ketentuan hukum saat menyelenggarakan program artistik. Salah satu poin pentingnya adalah larangan penyalahgunaan sarana teknis dan penggunaan audio rekaman sebagai pengganti penampilan langsung.

Secara sederhana, lip-sync diperkirakan akan dihentikan di Kota Ho Chi Minh dalam waktu dekat. Praktik ini disebut bukan isu baru dan selama bertahun-tahun telah menuai kritik. Penonton dinilai dapat membedakan lip-sync, “overlaying,” dan bernyanyi langsung, meski dalam banyak kasus tetap menoleransinya karena faktor penampilan panggung. Namun, dokumen terbaru tersebut kembali memantik diskusi luas mengenai kemungkinan pelarangan lip-sync, dengan banyak pihak mendukung langkah itu demi menghormati nilai artistik.

Analisis yang berkembang menyebut pelarangan lip-sync berpotensi memicu serangkaian perbaikan, mulai dari tuntutan latihan yang lebih menyeluruh hingga kebutuhan standar perangkat audio yang memadai agar penyanyi bisa menampilkan kemampuan vokal secara optimal. Dalam kerangka ini, penyanyi yang kuat secara live dinilai akan punya ruang lebih besar untuk menunjukkan kapasitas, sementara mereka yang kemampuan vokalnya belum mumpuni dituntut meningkatkan kualitas atau menghadapi risiko tersisih dari panggung.

Perdebatan tersebut juga bersinggungan dengan narasi “era kecantikan” yang disebut telah berakhir—merujuk pada masa ketika pasar musik Vietnam pernah didominasi figur populer karena penampilan, sementara kualitas vokal kerap dipandang sebagai aspek yang masih perlu ditingkatkan. Dengan arah kebijakan yang menekankan keaslian penampilan, penilaian terhadap penyanyi diperkirakan akan semakin bertumpu pada kemampuan panggung yang sesungguhnya.

Lalu, apakah 2026 akan menjadi tahun konser berkualitas? Dalam dua tahun terakhir, pasar musik Vietnam disebut menyaksikan daya tarik konser dan festival bagi penonton muda, dengan acara yang hadir hampir setiap pekan dan setiap bulan. Penyelenggara dinilai semakin berani berinvestasi, sementara penonton semakin bersedia membayar. Pada akhirnya, kualitas menjadi faktor utama untuk menjaga reputasi penyanyi dan mempertahankan kepercayaan penonton.

Dengan tren konser yang semakin padat, tuntutan profesionalisme yang meningkat, serta wacana pengetatan lip-sync, Vpop menuju 2026 digambarkan tidak memberi ruang bagi keraguan. Ketekunan, keberanian, dan ego artistik disebut menjadi “mata uang” yang menentukan siapa yang mampu bertahan dalam persaingan.