DENPASAR — Di tengah persaingan industri musik, band asal Bali, Filla, memilih menegaskan satu sikap: mereka ingin dinilai dari karya, bukan dari rasa simpati. Dari lima personel, empat di antaranya merupakan penyandang tunanetra.
Filla beranggotakan Surya alias Kasur Tata (vokal/gitar), Rudi alias Ben (keyboard), Rivan alias Gordon (bass), Mahesa alias Buls (gitar), dan Juliawan alias Kevin (drum). Empat personel terakhir merupakan penyandang tunanetra.
Band ini terbentuk pada Mei 2024. Kasur menjelaskan, Filla awalnya merupakan proyek solo yang kemudian berkembang menjadi band setelah ia bertemu para personel lain melalui unit kegiatan mahasiswa di salah satu kampus di Bali.
“Awalnya ini solo project saya, tapi karena saya lihat teman-teman tunanetra ini punya semangat dan potensi besar dalam musik, akhirnya saya ajak mereka gabung. Biar mereka juga punya arah dan tujuan, tidak sekadar main musik saja,” ujar Kasur, Sabtu (28/3/2026).
Nama Filla diambil dari panggilan masa kecil Kasur. Ia juga menyebut nama tersebut dapat dimaknai dari Surah Al-Fil yang berarti “gajah”, sebagai simbol kekuatan yang tenang namun kokoh.
Tantangan mobilitas dan proses rekaman
Di balik penampilan panggung yang solid, Filla menghadapi tantangan, terutama terkait mobilitas. Kasur mengatakan ia kerap mengantar-jemput rekan-rekannya ketika ada penampilan, termasuk menanggung kebutuhan tambahan untuk transportasi.
“Yang paling terasa itu ya mobilitas. Saya harus antar jemput teman-teman kalau ada gigs, kadang juga keluar biaya tambahan untuk transportasi. Setelah manggung capek, tapi tetap harus pastikan mereka pulang,” ungkapnya.
Jarak tempat tinggal para personel yang berjauhan juga menjadi kendala. Meski begitu, mereka tetap menjalani proses bermusik secara bertahap. Dalam rekaman, hasil juga tidak selalu langsung sempurna dalam sekali pengambilan. Namun, menurut Kasur, kondisi itu justru memperkuat kekompakan.
“Kalau ada bagian yang susah, kita saling back up. Yang penting lagunya jadi dan pesannya sampai. Prosesnya menantang, tapi seru,” ujarnya.
Karya dari pengalaman pribadi
Filla menyebut karya-karyanya banyak lahir dari pengalaman pribadi maupun cerita di sekitar mereka. Single debut berjudul “Keidela” menjadi salah satu lagu yang paling personal bagi Kasur. Lagu itu awalnya ditulis sebagai lagu cinta, tetapi sempat tertunda hingga hubungan yang menginspirasinya berakhir.
“Seperti tidak direstui. Tapi setelah hubungan itu kandas, lagu ini malah selesai dengan lancar. Akhirnya ‘Keidela’ jadi semacam diary dari kejadian itu,” kata Kasur.
Lagu kedua mereka, “3”, mengangkat tema penyesalan dan kesempatan. Kasur menjelaskan lagu itu berkisah tentang seseorang yang meminta satu kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan.
“‘3’ itu tentang kesempatan. Biasanya orang hancur di kesempatan ketiga. Lagu ini tentang seseorang yang minta satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya,” jelasnya.
Menurut Kasur, “3” menjadi salah satu lagu yang paling emosional saat dibawakan langsung. Ia menilai respons penonton kerap terasa ketika lagu itu dinyanyikan bersama.
“Banyak yang ikut nyanyi dengan perasaan. Di situ kami ikut merasakan emosinya juga,” tambahnya.
Menolak dikasihani, menargetkan album
Filla menegaskan identitas sebagai band dengan personel tunanetra bukan alasan untuk mendapat perlakuan khusus. Mereka ingin membuktikan kemampuan bermusik dan kelayakan mereka berdiri di panggung melalui karya.
“Yang ingin kami lakukan adalah membuktikan bahwa meski punya kekurangan, kami bisa bermusik dan memang pantas. Bukan karena dikasihani,” tegas Kasur.
Kasur mengakui kesempatan tampil masih terbatas, tetapi hal itu tidak membuat mereka berhenti. Ia mengatakan bandnya memilih fokus pada pembuktian lewat karya.
“Sudut pandang orang itu tidak bisa kita atur. Jadi kami fokus saja membuktikan lewat karya,” ujarnya.
Di sisi lain, Kasur menilai keterbatasan visual juga memberi kelebihan tertentu bagi para personel, termasuk ketajaman pendengaran. “Ada yang pitch perfect. Insting dan pendengaran jadi lebih kuat. Itu kelebihan yang mungkin tidak semua orang punya,” katanya.
Ke depan, Filla menargetkan merilis album penuh. “Targetnya semoga akhir tahun ini bisa punya album. Sekarang masih cari cara kumpulin dana untuk produksi,” ujar Kasur.
Selain itu, mereka juga menyiapkan lagu baru bertema semangat berjudul “I’m a Fire”, yang disebut akan menghadirkan energi berbeda dari karya-karya sebelumnya.

