JAKARTA — Unit art-rock asal New York City, Ecce Shnak, merilis “Vincent” sebagai single pertama dari album penuh mereka, Dandy Variances, yang dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini melalui Records, Man Records. Bersamaan dengan perilisan lagu, band ini juga menghadirkan video musik yang disutradarai dan diedit oleh DJay Brawner.
“Vincent” digambarkan memadukan lengkingan vokal dengan teknik operatik, menghadirkan energi rock dalam intensitas tinggi. Lagu ini mengangkat sosok antagonis yang klise, dengan narasi yang menekankan kekuatan suara diri sendiri.
David Roush, komposer, pemain bass, sekaligus salah satu vokalis Ecce Shnak, menjelaskan bahwa lagu tersebut berangkat dari ide lama yang semula ditulis untuk sebuah film yang tidak pernah terwujud. “Ini adalah lagu hardcore bertempo sedang, gelisah, mengalir secara cepat, dengan vokal khas musik klasik. Awalnya saya menulisnya untuk film yang tidak pernah jadi dibuat, namun hanya dibayangkan oleh teman sekelas saya di Temple University di Philadelphia pada tahun 2015,” ujar David.
Ia menyebut karakter Vincent sebagai arketipe orang yang sok tahu dan tidak peduli, tipe yang kadang ditemui meski sudah berusaha dihindari. Menurutnya, Vincent bukan penjahat mutlak, tetapi cukup mengganggu hingga pantas mendapat lirikan kesal.
David juga menyoroti bagian akhir lagu, ketika narator memutuskan untuk mengakhiri “perilaku menyebalkan” Vincent pada refrain terakhir melalui lirik, “Aku akan menghancurkan perlengkapanmu dengan suaraku!” Ia menyebut baris tersebut dapat menjadi pelampiasan bagi siapa pun yang memiliki “musuh kategori menengah” dalam hidupnya.
Video musik “Vincent” melibatkan DJay Brawner, Brooks Jones, Beth Narducci, dan David Roush. Dalam keterangannya, David mengatakan video tersebut merupakan penghormatan kepada salah satu video musik yang membekas bagi generasi milenial, yakni “Down” dari 311. Ia menilai tempo, nuansa, dan produksi musik kedua lagu cukup mirip, sehingga ide tribut sinematografis terhadap karya era 1990-an itu terasa relevan.
“Kami meminta sutradara sekaligus editor DJay Brawner untuk membuatnya semirip mungkin secara shot-for-shot, dan menurut kami ia berhasil dengan sangat baik. Namun, kami juga sedikit bermain-main dengan beberapa perbedaan,” kata David.
Ecce Shnak dikenal lewat penampilan panggung yang disebut menggabungkan ketepatan teknis dengan inspirasi dari kekacauan, membentuk ekosistem musikal yang liar namun terstruktur. Pada Mei tahun ini, mereka dijadwalkan menjalani tur East Coast bersama EMF, legenda musik asal Inggris yang disebut berstatus platinum-selling artist, sebelum melanjutkan tur di Inggris pada Juni 2026.
Terbentuk pada pertengahan 2000-an dan ditempa dalam skena eksperimental New York City, Ecce Shnak (dibaca Eh-kay sh-knock) beranggotakan David Roush (komposer, bass, vokal), Bella Komodromos (vokal), Chris Krasnow (gitar), Gannon Ferrell (gitar), dan Henry Buchanan-Vaughn (drum).