Content creator Andori Andriani, yang dikenal dengan nama Dorippu, membagikan kisah suaminya, Gama Irdiansyah, yang menjalani prosedur vasektomi. Keputusan tersebut menarik perhatian warganet karena dinilai sebagai bentuk keterlibatan pria dalam tanggung jawab kontrasepsi dalam rumah tangga.
Melalui unggahan mini vlog di media sosial, Andori memperlihatkan rangkaian proses sebelum hingga setelah tindakan. Ia menyebut keputusan vasektomi bukan diambil secara spontan, melainkan sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. “Rencana sejak 2022. Tercapai di 2026,” tulis Andori.
Andori juga menyampaikan dukungannya secara terbuka kepada sang suami. “Selamat udah vasektomi suamiku. Terganteng terkeren terhebat kamu. Aku makin cinta pokoknya dunia akhirat insyaAllah kita bersama till jannah aamiin yra,” ungkapnya.
Selain itu, Andori turut membagikan informasi terkait kisaran biaya vasektomi berdasarkan risetnya di sejumlah fasilitas kesehatan. Ia menyebut biaya tindakan berkisar sekitar Rp9 juta hingga Rp31 juta, bergantung pada fasilitas dan metode anestesi, serta menekankan pentingnya memilih dokter yang dirasa cocok. “Kesimpulan setelah bolang dan riset beberapa RS swasta, klinik. Biaya tindakan vasektomi sekitar 9-31 juta dengan anestesi. Ini daerah Jakarta Selatan. Yang terpenting ketemu dokter yang cucoks sreg di hati,” tulisnya, seraya menyebut suaminya menjalani tindakan dengan bius spinal ERACS.
Gama Irdiansyah juga menceritakan pengalamannya menjalani prosedur tersebut. Ia menyebut menjalani vasektomi di RSSM Fatmawati dan merasa terbantu oleh penjelasan dokter yang informatif. “Akhirnya kemarin memantapkan diri melakukan Vasektomi di RSSM Fatmawati. Alhamdulillah dipertemukan dengan @drben.urologi yang sangat informatif dalam menjelaskan dan membuat gua semakin yakin untuk melakukan tindakan ini,” tulis Gama.
Dalam unggahan lain, Gama menyampaikan komentar bernada ringan kepada istrinya. “Teruntuk istri tercintaku @dorippu sekarang aku sudah siap dicintaimu secara ugal-ugalan,” sambungnya.
Terkait proses tindakan, Gama menyebut ia tidak merasakan sakit karena menggunakan anestesi. Ia juga mengatakan keesokan harinya sudah bisa beraktivitas seperti biasa, termasuk mandi dan menyetir. “Enggak ada rasa sakit, dibius, katanya kayak dibius caesar, jadi enggak akan terasa sakit, katanya sampai tiga hari (baru hilang efeknya),” katanya.
Gama menegaskan prosedur tersebut tidak mengganggu fungsi seksual. Ia menyampaikan bahwa ejakulasi tetap terjadi, tetapi tanpa sperma. “Tetap bisa 'keluar' seperti biasa tapi tanpa isi (sperma). Kalau mau disambung lagi bisa tapi tindakan lebih sulit. Masih bisa bayi tabung jg karena 'pabrik' tetap ada,” tulisnya.
Dalam artikel tersebut juga dijelaskan pengertian vasektomi sebagai metode kontrasepsi pada pria untuk mencegah sperma keluar saat ejakulasi. Prosedur dilakukan dengan memotong dan menutup saluran sperma (vas deferens) sehingga sperma tidak bercampur dengan cairan semen. Akibatnya, pria tetap ejakulasi, namun cairan yang keluar tidak mengandung sperma yang dapat menyebabkan kehamilan.
Vasektomi disebut sebagai operasi ringan dengan risiko rendah dan umumnya dilakukan dengan anestesi lokal, sehingga pasien biasanya dapat pulang di hari yang sama. Namun, metode ini bersifat jangka panjang atau permanen sehingga keputusan melakukannya perlu dipertimbangkan matang bersama pasangan. Disebutkan pula bahwa meski ada kemungkinan penyambungan kembali, prosedurnya lebih kompleks dan tidak selalu berhasil. Vasektomi juga tidak melindungi dari infeksi menular seksual.
Unggahan Dorippu dan Gama memunculkan beragam komentar warganet. Sejumlah komentar menunjukkan adanya kesalahpahaman, termasuk kekhawatiran bahwa vasektomi dapat memudahkan seseorang berhubungan seksual tanpa risiko kehamilan, hingga saran metode kontrasepsi lain seperti “keluar di luar” atau “main kalender”. Ada pula komentar yang mengaitkannya dengan konsep “kodrat”.
Di tengah perbincangan itu, artikel menekankan bahwa secara medis, KB pria seperti vasektomi tidak mempengaruhi hormon, tidak mengurangi maskulinitas, dan tidak mengganggu fungsi seksual. Keputusan tersebut juga dipandang sebagai contoh keterlibatan pria dalam tanggung jawab kontrasepsi, dengan catatan tetap didasarkan pada kesepakatan dan dukungan bersama dalam hubungan.