BERITA TERKINI
Dialog Kebangsaan di Unesa: Musisi dan Akademisi Dorong Budaya Lokal Jadi Kekuatan di Era Global

Dialog Kebangsaan di Unesa: Musisi dan Akademisi Dorong Budaya Lokal Jadi Kekuatan di Era Global

SURABAYA – Seni, musik, dan budaya dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mengenal diri dan Indonesia di tengah arus globalisasi.

Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Nurhasan mengatakan kekayaan seni dan budaya merupakan kekuatan utama Indonesia untuk bersaing di tingkat global. Ia menilai musik menjadi salah satu warisan budaya yang terus hidup dan dekat dengan generasi muda.

Menurut Nurhasan, musik dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan ribuan suku, budaya, dan bahasa di Indonesia tanpa harus dibatasi perbedaan. Ia menekankan pentingnya kemasan yang tepat dan pemanfaatan teknologi agar seni budaya Indonesia semakin dikenal luas.

“Seni budaya adalah keunggulan Indonesia yang bisa kita banggakan di kancah internasional. Maka dari itu, kemasan dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor kunci,” ujarnya dalam Dialog Kebangsaan bertema “Mengenal Diri, Mengenal Indonesia”, Sabtu (9/5/2026).

Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan platform digital untuk mengenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya agar jati diri bangsa tidak meluntur. “Mari gunakan platform digital untuk mengenalkan serta melestarikan warisan kita, agar jati diri bangsa tidak meluntur dan tetap abadi sepanjang zaman,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, kreator musik dan visual Alffy Rev menyoroti kecenderungan zaman yang mendorong masyarakat bergerak serba cepat dan menginginkan hasil instan. Ia menekankan bahwa perkembangan manusia seharusnya dipahami sebagai perjalanan yang membutuhkan proses.

Alffy menggunakan filosofi pohon untuk menggambarkan pentingnya membangun akar yang kuat sebelum bertumbuh tinggi. “Kita hidup di dunia yang memuja kecepatan tapi lupa akan kedalaman. Saya berusaha berhenti sejenak untuk memaknai apa akar kita. Saya terinspirasi dari pohon yang tidak tergesa untuk tumbuh, tetapi menguatkan akarnya terlebih dahulu,” katanya.

Sementara itu, Bimbim Slank menilai derasnya arus globalisasi musik dunia, termasuk fenomena K-Pop, tidak mengurangi minat generasi muda terhadap musik Indonesia. Menurutnya, justru hal itu memicu musisi Tanah Air untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam industri kreatif.

Ia menegaskan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang besar dan menjadi sumber inspirasi yang dapat terus dieksplorasi. “Justru K-Pop atau musik dunia membuat kita lebih berpacu, bersaing, dan terinspirasi. Budaya kita itu lengkap banget dan banyak yang bisa dieksplorasi,” ungkapnya.

Bimbim juga menyinggung ketimpangan sosial yang masih menjadi persoalan di masyarakat. Ia menyebut hal tersebut menjadi alasan Slank konsisten membawa isu-isu sosial dalam karya mereka, selain tema lagu cinta. Slank, kata dia, kerap mengangkat tema lingkungan hidup, kritik sosial, dan gerakan anak muda sebagai bagian dari pesan kepada publik.

Dalam sesi tanya jawab, Once Mekel menjelaskan perannya sebagai musisi dan anggota dewan saling terhubung. Ia menyebut kehadirannya di parlemen menjadi kesempatan untuk memperjuangkan aspirasi para seniman, khususnya terkait perlindungan hak cipta.

“Saya berusaha agar Undang-Undang Hak Cipta bisa menjadi jalan tengah baik untuk pencipta, penyanyi, dan berbagai pihak lain,” tandasnya.

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan akademisi, seniman, budayawan, dan mahasiswa dalam nuansa kebangsaan. Sejumlah musisi nasional hadir sebagai narasumber, di antaranya Bimbim Slank, Once Mekel, Alffy Rev, Shanna Shannon, dan Novia Bachmid. Acara itu juga dihadiri mahasiswa disabilitas berprestasi, Nanda Mei Solichah.