JAKARTA — Di tengah dominasi layanan streaming musik dan media sosial yang memungkinkan pesan terkirim dalam hitungan detik, tradisi mengirim salam dan meminta lagu di radio ternyata belum benar-benar hilang. Bagi sebagian pendengar, radio bukan semata medium untuk mendengarkan musik, melainkan ruang untuk menyampaikan perasaan—mulai dari rindu, ucapan terima kasih, hingga perhatian kepada orang terdekat.
Fenomena ini terlihat dari masih banyaknya pendengar yang rutin mengirim pesan ke program-program interaktif. Mereka tidak hanya mengajukan permintaan lagu, tetapi juga menitipkan salam dan cerita yang kemudian dibacakan penyiar kepada banyak pendengar lain.
Rizwan (27), karyawan agensi di Jakarta Selatan, mengatakan radio menjadi cara yang unik untuk menjaga kedekatan dengan keluarga yang tinggal di kota berbeda. Selama sekitar lima tahun terakhir, ia rutin mendengarkan radio melalui aplikasi di telepon genggam. Kebiasaan itu bermula saat pandemi Covid-19, ketika ia lebih banyak bekerja dari rumah dan membutuhkan teman selama beraktivitas.
“Awalnya cuma iseng cari teman kerja karena rumah sepi. Saya coba dengar radio lewat aplikasi. Ternyata enak juga karena ada yang ngobrol, ada musik, ada informasi ringan,” kata Rizwan saat dihubungi, Senin (1/6/2026).
Menurut Rizwan, radio menawarkan pengalaman yang lebih hidup dibanding layanan streaming musik karena ada sosok manusia di balik siaran. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi ketika ia mengirim request lagu favorit sang ibu saat ulang tahun.
“Waktu itu saya request lagu Glenn Fredly dan titip pesan supaya ibu tetap sehat karena kami beda kota. Pesannya dibacakan penyiar, lalu saya rekam dan kirim ke ibu,” ujarnya.
Ia menilai pesan yang dibacakan penyiar memiliki makna berbeda dibandingkan pesan yang dikirim langsung melalui aplikasi percakapan. “Kalau chat cuma saya dan ibu yang tahu. Tapi kalau dibacakan di radio rasanya lebih spesial karena didengar banyak orang,” kata dia.
Pengalaman serupa dialami Julian (26), karyawan swasta yang masih setia mendengarkan radio melalui perangkat bawaan mobil saat berangkat dan pulang kerja. Radio menjadi teman perjalanannya setiap hari ketika melintasi kawasan Sudirman-Thamrin yang padat kendaraan.
“Saya setiap hari lewat jalur Sudirman-Thamrin. Daripada bosan, saya nyalakan radio mobil. Sudah jadi rutinitas sejak pertama kerja,” ujar Julian.
Julian pernah mengirim request lagu dan pesan untuk sahabatnya yang akan menikah. Lagu yang dipilih merupakan lagu yang sering mereka dengarkan bersama sejak masa sekolah. Ketika pesan tersebut dibacakan penyiar, sahabatnya yang ternyata juga sedang mendengarkan radio langsung menghubunginya.
“Dia kaget karena lagi dengar radio juga di mobil. Katanya enggak nyangka masih ada yang kirim salam lewat radio. Justru itu yang bikin berkesan,” katanya.
Bagi Julian, media sosial memang menawarkan komunikasi yang cepat. Namun, radio menghadirkan sensasi berbeda karena ada unsur menunggu dan rasa penasaran apakah pesan yang dikirim akan dibacakan atau tidak.
Di sisi lain, Ketty (30), karyawan swasta, juga rutin mendengarkan radio melalui situs streaming saat bekerja. Ia mulai mendengarkan radio sekitar tiga tahun lalu setelah direkomendasikan rekan kerja. Dari sekadar menikmati lagu-lagu nostalgia, Ketty kemudian tertarik pada berbagai cerita dan pesan yang dikirim para pendengar.