PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menilai prospek industri kelapa sawit pada 2026 masih cukup positif. Optimisme ini ditopang permintaan domestik yang dinilai kuat serta harga yang relatif stabil.
Merujuk laporan Outlook Industri Kelapa Sawit kuartal I-2026 yang dirilis IPOSS, harga crude palm oil (CPO) global pada semester I 2026 diproyeksikan berada di kisaran US$ 962–1.030 per ton CIF Rotterdam. Dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS, kisaran tersebut setara Rp16.873–17.605 per kilogram.
Dari sisi permintaan dalam negeri, program mandatori biodiesel B40 disebut menjadi penopang utama konsumsi domestik. Kondisi ini, menurut manajemen, menjadi peluang untuk mendorong agenda pertumbuhan perusahaan.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis CSRA, Seman Sendjaja, menyatakan perusahaan akan memanfaatkan prospek tersebut dengan mempercepat ekspansi, baik secara organik maupun melalui investasi strategis. CSRA juga membuka peluang pembelian tandan buah segar (TBS) dari luar untuk mengoptimalkan pabrik kelapa sawit (PKS).
“Perusahaan telah menerapkan strategi yang komprehensif untuk secara aktif meninjau dan mengidentifikasi berbagai peluang dalam mengakuisisi lahan baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” ujar Seman dalam siaran pers, Jumat (27/3/2026).
Salah satu rencana ekspansi yang disiapkan adalah pembukaan lahan baru di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Lokasi ini dinilai strategis karena berdekatan dengan area operasional eksisting yang dimiliki dan dioperasikan oleh entitas perseroan, PT Daya Agro Lestari. Menurut manajemen, kedekatan lokasi diharapkan mempermudah integrasi operasional, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, serta mengoptimalkan infrastruktur dan sistem logistik yang sudah tersedia agar kegiatan operasional berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Manajemen menyebut lahan baru tersebut nantinya akan dikelola oleh entitas perseroan lainnya, PT Bintang Kenten Lestari.
Selain ekspansi lahan, CSRA menegaskan fokus pada penguatan arus kas operasional. Penguatan kas diprioritaskan untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pembiayaan internal bagi proyek-proyek pengembangan. “Dengan demikian, Perseroan dapat menjalankan strategi pertumbuhan secara lebih optimal sekaligus mempertahankan kinerja keuangan yang sehat dalam jangka panjang,” kata Seman.
Dari sisi kinerja, sepanjang 2025 pendapatan CSRA tercatat Rp1,89 triliun, melonjak 77,1% dibandingkan Rp1,07 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang peningkatan volume penjualan CPO bernilai tambah serta kenaikan harga jual rata-rata. Sementara itu, laba bersih CSRA mencapai Rp272,56 miliar, tumbuh 27,7% dari Rp213,36 miliar pada 2024.

