Musik daerah belakangan kembali mendapat perhatian luas, seiring perubahan selera pendengar dan pengaruh media sosial yang mendorong eksplorasi berbagai bentuk ekspresi budaya. Dalam konteks itu, Bumiy menghadirkan karya berbahasa Padang berjudul Japuik Tabao sebagai upaya membawa warna musik Minangkabau ke ranah yang lebih luas.
Bumiy yang berdarah Minang merilis Japuik Tabao sebagai lagu bertema kehilangan mendalam akibat takdir. Lagu ini ditulis oleh Budi Irwandi dan dihadirkan dengan pendekatan musikal khas Minangkabau era 1950–1960-an.
Secara lirik, Japuik Tabao bercerita tentang seseorang yang ditinggalkan pasangan untuk selamanya, menyisakan janji yang tak sempat ditepati. Salah satu penggalan lirik, “Uda kini dalam pusaro”, menegaskan bahwa perpisahan yang dimaksud bukan sekadar jarak, melainkan kehilangan yang tak dapat dipulihkan. Nuansa penyesalan, janji, dan cinta yang tak tersampaikan menjadi benang merah sepanjang lagu, sebagaimana disampaikan dalam keterangan pers pada Kamis (7/5/2026).
Dalam proses produksi, Bumiy kembali berkolaborasi dengan Deni Januarta sebagai produser. Aransemen disebut dibangun dengan karakter yang manis namun emosional. Proses mixing dan mastering ditangani Irene Edmar Irawan, dengan penekanan pada penguatan karakter audio tanpa menghilangkan keintiman vokal.
Dukungan musikal turut diisi oleh Yogi Mahendra pada gitar bass. Sementara itu, lapisan vokal tambahan dibawakan langsung oleh Bumiy untuk memperkaya kedalaman ekspresi lagu.
Melalui Japuik Tabao, Bumiy tidak hanya menghadirkan lagu tentang kehilangan, tetapi juga membuka ruang eksplorasi musik Minangkabau yang lebih lintas genre dan relevan bagi pendengar masa kini. Lagu Japuik Tabao tersedia di platform streaming digital mulai 7 Mei 2026.