Ketakutan berbuat salah masih menjadi persoalan yang dekat dengan banyak anak. Di sekolah maupun di rumah, kesalahan kerap dipandang sebagai kegagalan yang harus dihindari, bukan bagian dari proses belajar. Cara pandang ini membuat anak tumbuh dengan kecemasan untuk mencoba hal baru, takut dinilai, dan enggan mengambil risiko.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bedah buku Hutan Musik karya Carolina S. Yana yang digelar Perpustakaan Bunga di Tembok pada Sabtu, 25 April 2026. Carolina, yang telah menjadi musik edukator selama tiga dekade, menekankan pentingnya menghadirkan ruang aman agar anak berani melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi.
Menurut Carolina, kesalahan justru menjadi bagian penting dalam proses tumbuh seseorang. Ketakutan terhadap kesalahan, kata dia, hanya akan membuat anak kehilangan keberanian untuk belajar.
Buku Hutan Musik ditujukan untuk anak-anak, namun pesannya dinilai relevan bagi orang dewasa, terutama orang tua dan pendidik. Dalam diskusi tersebut, Carolina membahas dua tokoh utama: Do si kodok dan Sol si bebek. Keduanya merepresentasikan sikap yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Do digambarkan sangat percaya diri hingga sulit menyadari kesalahannya. Sementara Sol cenderung menyangkal dan membela diri ketika melakukan kekeliruan. “Sol (Bebek) itu justru dia ngeyel itu saya bilang, jadi dia salah nih nih dia ngeyel, terus apa namanya, dia membela diri,” ungkap Carolina.
Melalui pendekatan fabel, Carolina menggunakan tokoh hewan agar pembaca tidak merasa dihakimi. Personifikasi, menurutnya, membantu pembaca lebih mudah mengenali diri sendiri tanpa merasa disudutkan.
Dalam cerita, tokoh guru bernama Ibu Trenggiling tidak merespons kesalahan muridnya dengan hukuman, melainkan pendampingan. Kesalahan dianggap wajar selama anak mampu memahami letak kekeliruannya dan berusaha memperbaikinya.
Gagasan ini sekaligus menjadi kritik terhadap pola pendidikan yang masih menitikberatkan hasil akhir dibanding proses belajar. Anak dipuji ketika mendapat nilai sempurna, tetapi cepat disalahkan ketika gagal. Akibatnya, anak belajar bahwa kesalahan identik dengan kegagalan.
“Tapi ketika sudah mulai ke komunitas yang lebih besar disitu peer review atau peer judgement itu lebih terasa, karena sistem kita menghargai jawaban yang benar bukan prosesnya, kalau nilai sempurna dipuji, kesalahan dihukum, jadi anak belajar lagi kalau salah sama dengan gagal,” kata Carolina.
Carolina juga menilai rasa takut salah bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir. Ketakutan itu tumbuh dari respons lingkungan ketika anak melakukan kesalahan. Saat memasuki usia balita, anak memiliki rasa ingin tahu tinggi dan mulai mencoba banyak hal baru. Pada tahap ini, kesalahan merupakan bagian alami dari eksplorasi. Namun, tekanan sosial dan penilaian dari lingkungan sering membuat anak kehilangan keberanian tersebut.
Anak, menurut Carolina, perlu belajar bahwa mereka boleh salah, tetapi tetap bertanggung jawab atas kesalahan itu. Dari proses tersebut, anak dapat memahami keterbatasan dirinya sekaligus mengembangkan sikap yang lebih lembut terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Peran orang tua
Diskusi ini juga menghadirkan editor buku, Anna Farida. Anna menilai banyak orang tua tanpa sadar justru membuat anak takut mencoba karena terlalu cepat menghakimi atau mengatur.
“Karena saya dari sudut pandang orang tua, menurut saya buku ini sangat membantu. Di satu sisi tidak paham musik jadi mau belajar, orang tua yang sok tahu, sok ngatur, kadang-kadang itu yang membuat anak takut mencoba, takut gagal, berhenti, (karena) disalah-salahin, anak tidak diberi ruang aman buat salah, ruang aman buat mencoba,” ungkap Anna.
Menurut Anna, orang tua semestinya menjadi tempat aman pertama bagi anak ketika gagal, bukan sumber ketakutan baru. Dukungan dan pendampingan dinilainya lebih dibutuhkan anak dibanding hukuman atau penilaian berlebihan.
Peserta diskusi, Aziz dari Bandung Timur, juga menyoroti pentingnya melatih keberanian anak sejak dini. “Pesan menarik dari yang saya ambil itu terkait dengan bagaimana menumbuhkan keberanian, bahwa keberanian dapat dilatih, dan ruang aman untuk melakukan kesalahan bagi anak-anak,” kata Aziz.
Melalui cerita sederhana tentang musik dan hewan-hewan di dalamnya, Hutan Musik tidak hanya mengenalkan dasar-dasar musik kepada anak. Buku ini juga mengingatkan bahwa proses belajar membutuhkan ruang yang aman—tempat anak dapat mencoba, gagal, lalu tumbuh tanpa rasa takut.