BERITA TERKINI
Angel Pieters Tuangkan Doa dan Pergulatan Batin Lewat Proyek Musik Worship “Tehillim”

Angel Pieters Tuangkan Doa dan Pergulatan Batin Lewat Proyek Musik Worship “Tehillim”

Angel Pieters membagikan perjalanan spiritualnya melalui musik worship yang ia jalani seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup. Ia menilai kekuatan musik tidak semata terletak pada teknik atau kemegahan panggung, melainkan pada iman, ketulusan, serta kejujuran emosional yang menyertainya.

Memulai karier di industri hiburan sejak usia delapan tahun, Angel tumbuh dalam sorotan publik. Ia mengakui bahwa pada masa awal, musik lebih ia pahami sebagai ruang untuk mengejar pencapaian dan pengakuan. Namun seiring waktu, perspektif itu berubah. Pengalaman hidup membawanya pada pemahaman bahwa musik tidak selalu tentang menjadi yang paling terdengar, melainkan tentang menyampaikan sesuatu yang benar-benar berarti.

Memasuki fase hidupnya saat ini, Angel juga menjalani peran sebagai ibu. Prioritasnya pun bergeser. Ia ingin menciptakan karya yang jujur, bermakna, dan bertahan lama, termasuk sebagai sesuatu yang kelak dapat ia banggakan di hadapan anaknya.

Perjalanan tersebut kini menemukan bentuk baru lewat keterlibatannya dalam proyek musik worship yang ditulis oleh Liliana Tanoesoedibjo. Dalam album ini, Angel berpartisipasi bersama sejumlah penyanyi Indonesia lainnya dengan membawakan dua lagu, yakni “Doa Bapa Kami – The Lord’s Prayer” bersama Maria Shandi serta “Ku Perlu Engkau Tuhan”.

Bagi Angel, kedua lagu itu tidak sekadar bagian dari karya musik, tetapi representasi dari perjalanan spiritual yang penuh penyerahan diri dan kejujuran emosional. Ia meyakini musik worship memiliki kekuatan tersendiri, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi terendah dan kesulitan mengungkapkan perasaan lewat kata-kata.

“Kadang kita ada di titik down, desperate, dan hanya ingin mendengar kata-kata yang menguatkan,” ungkap Angel. “Tapi worship itu sangat powerful. Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu hati kita, Tuhan tahu masalah kita. Kadang kita hanya perlu meluapkannya lewat worship.”

Menurutnya, worship bukan hanya soal melodi atau lirik, melainkan tentang membuka hati sepenuhnya di hadapan Tuhan. Dalam momen-momen sulit, ia melihat worship sebagai ruang untuk melepaskan beban, menemukan ketenangan, dan kembali terhubung secara spiritual.

Pesan tersebut juga akan dihadirkan dalam panggung “Tehillim: The Heart of Worship”, yang disebut sebagai konser worship sinematik pertama di Indonesia. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 6 Juni 2026 di Jakarta Concert Hall.

Konser itu akan menghadirkan deretan musisi, antara lain Judika, Lyodra, Anneth Delliecia, Faith, Samuel Cipta, Kris Tomahu, hingga Gery & Gany. Pertunjukan dikemas dengan konsep yang memadukan orkestra, visual sinematik, dan storytelling spiritual.

Di tengah rangkaian persiapan—mulai dari workshop, rekaman, hingga sesi kreatif—Angel menyebut ia menjalaninya dengan rasa syukur dan antusiasme. Namun di luar produksi dan panggung, ia menegaskan fokus utamanya tetap sama: menghadirkan musik yang dapat menguatkan hati orang lain dan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.

Lewat keterlibatan dalam proyek “Tehillim”, Angel Pieters menampilkan sisi yang lebih personal sebagai musisi—bahwa karya yang paling bermakna, baginya, lahir dari iman, ketulusan, dan perjalanan hidup yang dijalani secara utuh.